SULBAR, REPUBLIX.ID – Sebuah tim ilmuwan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini tengah menyoroti tanah di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang diketahui memiliki tingkat radiasi alami luar biasa tinggi bahkan mencapai 60 kali lipat dari rata-rata global. Temuan ini tercatat dalam laporan internasional Evaluation of Public Exposure to Ionizing Radiation 2025.
Dipimpin oleh peneliti Adi Rahmansyah Amir Abdullah dan Sidik Permana, studi ini berupaya menjawab pertanyaan besar. Apa yang membuat tanah Mamuju menjadi salah satu kawasan dengan radiasi latar belakang alami tertinggi di dunia?
Dalam riset bertajuk “Investigating the soil surface properties behind elevated natural radiation in Mamuju, Indonesia” yang diterbitkan di jurnal Scientific Reports, para ilmuwan memeriksa proses lingkungan dan geokimia yang diduga menjadi pemicu tingginya konsentrasi unsur radioaktif seperti uranium (U), thorium (Th), serta kalium (K).
Melalui pengukuran radiologi, karakterisasi kimia tanah, dan pengambilan sampel sistematis, para peneliti menemukan bahwa pelapukan intens dan proses lateritisasi merupakan faktor utama yang mengatur distribusi radionuklida pada tanah di wilayah tersebut.
Tanah dengan karakter asam dan kaya lempung cenderung menyimpan konsentrasi U dan Th yang lebih tinggi, sementara unsur K lebih dominan pada tanah yang kurang lapuk dan cenderung alkalin.
Tanah Mamuju terbentuk dari pelapukan batuan vulkanik dan umumnya terklasifikasi sebagai laterit, dengan kandungan oksida besi, aluminium, dan silika yang tinggi-komposisi yang dikonfirmasi melalui analisis XRF.
Pengukuran pH menunjukkan tanah berada pada kondisi cenderung asam, berkisar antara 4,13 hingga 8,86, dengan rata-rata 5,84. Variasi tekstur tanah yang sangat lebar, mulai dari lempung 6-89 persen hingga pasir 3-85 persen, turut memengaruhi distribusi unsur radioaktif.
Indeks pelapukan geokimia (CIA dan IOL) juga menunjukkan bahwa lokasi dengan pelapukan intens dan proses lateritisasi kuat adalah area yang memiliki aktivitas radionuklida paling tinggi.
Survei lapangan menghasilkan temuan mengejutkan, laju dosis radiasi gamma dan dosis efektif tahunan di beberapa titik di Mamuju tidak hanya melampaui rata-rata global, tetapi juga berada di kisaran batas maksimal untuk keselamatan publik. Bahkan, beberapa di antaranya mendekati ambang paparan bagi pekerja radiasi profesional.
Aktivitas isotop radioaktif seperti ²²⁶Ra, ²³²Th, dan ⁴⁰K di banyak titik ditemukan beberapa kali lipat lebih tinggi dari nilai global.
Melalui analisis PCA dan HCA, peneliti mengidentifikasi dua asosiasi geokimia utama yang menjadi kunci tingginya radioaktivitas:
1. Asosiasi Kalium-Pasir-pH
Tanah berpasir dengan kandungan kalium tinggi cenderung memiliki pH lebih tinggi dan memengaruhi pengayaan unsur K.
2. Asosiasi Radioaktivitas-Lempung
Kandungan lempung, terutama yang mengalami pelapukan lanjutan, berhubungan langsung dengan akumulasi U dan Th, sehingga meningkatkan paparan radiasi.
Menariknya, sejumlah titik dengan kandungan lanau tinggi juga menunjukkan radioaktivitas signifikan, menandakan adanya faktor lokal lain seperti zona mineralisasi U-Th.
Para peneliti menegaskan bahwa temuan ini memberikan pemahaman lebih dalam mengenai perilaku Naturally Occurring Radioactive Materials (NORM) pada tanah tropis.
Data ini penting sebagai dasar penilaian risiko radiasi, perencanaan tata ruang, dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan di kawasan High Natural Background Radiation Area (HBNRA) seperti Mamuju.
Penulis : Mrh
Editor : Andi Momang







Komentar