KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sahabat Tani, Desa Awo, Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara, terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan melalui pengembangan budidaya ikan lele.
Sejak Juli 2025, BUMDes Sahabat Tani mulai mengelola budidaya lele dengan memanfaatkan kolam buatan, baik permanen maupun terpal.
Ketua BUMDes Sahabat Tani, Iwan mengatakan, budidaya lele saat ini dilakukan pada 17 titik kolam, terdiri dari 12 kolam tembok dan 5 kolam terpal. Ukuran kolam bervariasi, yakni 3×3 meter, 3×4 meter, dan satu kolam berukuran 2×5 meter.
“Total bibit yang kami tebar sebanyak 60 ribu ekor. Budidaya ini mulai berjalan sejak Juli 2025, dan panen tahap pertama sudah menghasilkan sekitar 800 kilogram ikan lele dengan harga Rp 17.000 per kilogram,” ujarnya, Senin (15/12/2025).
Menariknya, BUMDes Sahabat Tani telah menjalin kerja sama atau kontrak dengan pemasok bibit lele. Dalam kerja sama tersebut, pihak pemasok tidak hanya menyediakan bibit, tetapi juga menjadi pembeli hasil panen lele milik BUMDes.
“Jadi mereka yang pasok bibit, mereka juga yang membeli hasil budidaya kami. Ini sangat membantu dari sisi pemasaran,” jelas Iwan yang menjabat Ketua BUMDes sejak 2023.
Dari sisi pakan, untuk setiap 5.000 ekor lele, kebutuhan pakan pabrikan mencapai maksimal tiga sak atau sekitar 30 kilogram. Setelah itu, pembudidaya mulai menggunakan pakan alternatif berupa usus ayam untuk menekan biaya produksi.
Budidaya lele BUMDes Sahabat Tani dikelola oleh kelompok masyarakat yang beranggotakan lima orang, dengan sistem pengawasan langsung dari BUMDes.
Skema yang diterapkan adalah sistem bagi hasil, di mana seluruh modal usaha dikembalikan ke BUMDes, sementara keuntungan dibagi dengan komposisi 25 persen masuk ke BUMDes dan 75 persen menjadi hak kelompok pembudidaya.
Untuk budidaya 60.000 ekor lele ini, BUMDes Sahabat Tani menggelontorkan modal sekitar Rp 60 juta. Harga bibit lele dibeli dengan nilai Rp 1.000 per ekor.
“Kami memilih budidaya lele karena didukung sumber daya alam yang memadai, terutama ketersediaan air. Selain itu, budidaya lele tidak memerlukan lahan yang luas dan secara ekonomi cukup menguntungkan,” kata Iwan.
Menurutnya, dibandingkan usaha peternakan ayam petelur atau sapi yang membutuhkan lahan besar, budidaya lele menjadi pilihan paling realistis bagi Desa Awo.
Pemerintah Desa Awo juga memberikan dukungan penuh terhadap program ini. Ke depan, BUMDes Awo menargetkan desanya dapat berkembang menjadi pusat budidaya ikan lele di Kolaka Utara.
“Kami berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Perikanan Kabupaten Kolaka Utara, dapat memberikan pembinaan terkait teknik budidaya ikan lele agar hasilnya lebih maksimal,” ujarnya.
Selain pembinaan teknis, BUMDes Sahabat Tani Desa Awo juga berharap adanya dukungan bantuan mesin pembuatan pakan ikan lele. Selama ini, ketersediaan pakan masih menjadi kendala utama dalam pengembangan usaha.
“Ke depan kami berencana mengajukan proposal bantuan, termasuk mesin pakan, agar kami bisa lebih mandiri,” tambah Iwan.
Meski hasil yang diperoleh saat ini belum maksimal, Iwan optimistis budidaya lele yang dikelola BUMDes Sahabat Tani akan berkembang pesat dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi desa serta penopang ketahanan pangan berbasis potensi lokal.
Penulis : Astar
Editor : Andi M







Komentar