(Penulis : La Yusrie. Budayawan Buton. Lakina Kamaru Lembaga Adat Kesultanan Buton. Pendiri The La Saila Institute)
359 tahun yang lalu, 30 Desember 1666, Arung Palakka beserta armada pengikutnya dari Batavia tiba di teluk Buton, dan segera memasuki perang Buton.
Ia menulis dalam catatan hariannya: 30 Desember 1666. “Kidapi I Butung ri asara” Kami sampai di Buton pada saat Ashar. (Lihat Hady dalam Lontara Bilang, Catatan Harian Raja Bone XV Januari 1660 April 1696, 2021: 63)
Ketibaan dan masuknya Raja Bugis Bone di Perang Buton itu segera mengubah konstelasi, membawa Makassar yang telah lebih dua bulan mengepung Buton hendak masuk ke negosiasi dan perundingan.
Tetapi keadaan memanas, situasi terus naik mendidih, sebagian pasukan Bugis pimpinan Arung Amali yang mulanya ikut menyokong Makassar keluar menyempal, masuk bergabung ke Arung Palakka.
Sedang di darat pasukan dari Buton terus berdatangan, jumlah mereka terus membesar melebihi 10 ribu orang, 1000 pucuk senapan disiapkan dua benteng pertahanan disiagakan Benteng Wolio dan Sorawolio, dipersenjatai dengan 72 meriam jarak jauh berkaliber besar, 400 pucuk senapan, 70 buah pistol dan lebih 10 ton mesiu, sebagian lain pasukan besar gabungan Buton-Bugis pimpinan La Ode Arafani bersiaga di sepanjang pesisir pantai Bungi.
Karaeng Bonto Marannu, pimpinan armada Makassar mengirim perutusan menemui Arung Palakka tetapi utusan itu kembali tanpa membawa hasil, kesepakatan untuk masing-masing menahan diri atau bahkan jika perlu menarik diri tak dicapai, dan perang besar tampaknya memang tidak bisa dielakkan.
Selang hanya dua hari setelah itu, pecah perang besar di Bungi pulau Buton. Arung Palakka menulis dalam catatan harian: “Kiattebbang araja ri Bungi” Kami berperang besar-besaran di Bungi.
Formasi serangan ditentukan: sisi utara berpangkalan di Pulau Makassar sebagai pasukan inti terdepan, dipimpin oleh La Ode Arafani dan Yarona Mbelu Jangko dengan para perwira pasukannya adalah Lakina Kancinaa, Lakina Wasaga, Lakina Watulea, Lakina Bhone, Lakina Lakudo, Lakina Lolibu, Lakina Bharuta, Lakina Mawasangka, Lakina inulu, Lakina Wasilomata, Lakina Wance, Lakina Kapota, Lakina Timu, Lakina Wali, Lakina Koroni, Bhontona Barangkatopa, Bontona Melai, Bhontona Wandailolo.
Sisi Barat berpangkalan di Waara dipimpin oleh Kapitalao La Hasa dan La Tangkaraja. Sebelah timur di Kotamara dipimpin La Tumpamana dan Kapitalao La Jipalau (Jitanggalawu). Bagian selatan berpangkalan di Sulaa di bawah komando Gogoli Waruruma dan Arung Palakka.
Dan perang besar-besaran di Bungi pulau Buton itu menyisakan juga hal besar di ujung akhirnya. 195 buah panji, di samping umbul-umbul, emas, keris yang berhulu dan sarungnya berlapis emas dan perak, bedil, tombak, pedang bergagang perak serta beberapa puluh buah meriam berhasil dirampas.
5500 orang ditawan di sebuah pulau kecil di muka Baubau dengan lebih 400 orang diantaranya dijadikan sebagai budak (lihat Valentijn dan Lightvoet 1878.53). Itu pulau kecil kemudian dinamai oleh Speelman sebagai “Makassar Kerkhof” penjara orang Makassar, orang Buton menamainya Pulau Makassar.
Sumber-sumber kolonial itu berbeda dengan riwayat yang berasal dari Sultan Buton La Simbata yang ketika itu berwewenang menetapkan status tawanan yang menyatakan bahwa di antara semua tawanan itu tidak ada satupun yang diputuskan menjadi budak walaupun menurut tradisi di masa itu siapa yang kalah dalam perang akan menjadi budak.
Sultan La Simbata bahkan memberi pertolongan makanan dan perawatan, kemudian memulangkan mereka ke negerinya ketika Speelman meninggalkan pulau itu menuju ke Amboina Maluku (Lihat Makmun, 2003: 339–340)
Perang Bungi di teluk Buton itu memang adalah perang besar, melibatkan banyak negeri dan korban yang jatuh tiada sedikit jumlahnya.
Sultan La Simbata memberi gambaran jalannya perang itu: “perang pada hari itu bagaikan percikan gempa bumi dahsyat di darat dan bagaikan terjadinya badai gelap dengan guntur dan petir yang sambar menyambar di laut, alam seakan sedih dan matahari lambat laun redup tertutup asap tebal senapan dan meriam dan bau mesiu menerpa dari empat penjuru.
Benteng Wolio yang terkena peluru bedil dan meriam menimbulkan percikan-percikan api yang tiada henti, sedang setiap orang anggota pasukan seakan kesetanan, tidak memikirkan matinya lagi”





Komentar