KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Program ketahanan pangan Desa Jabal Kubis, Kecamatan Kodeoha, Kabupaten Kolaka Utara mulai menunjukkan capaian menggembirakan.
Setelah hampir lima bulan berjalan, budidaya ayam petelur yang digarap Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Mekar Abadi mulai memberikan hasil nyata bagi masyarakat.
Diluncurkan pada Juni 2025, pemerintah desa memilih fokus pada usaha ayam petelur karena dinilai memiliki alur produksi yang lebih stabil dan potensi keuntungan yang jelas.
Kepala Desa Jabal Kubis, Andi Samsu Alam, S.E mengatakan, pilihan tersebut diambil setelah melihat karakter usaha yang relatif pasti dan minim risiko.
“Usaha ayam petelur memberikan pendapatan harian yang terukur. Setiap hari ada hasil yang langsung bisa dirasakan,” ujarnya, Rabu (10/12/2025).
Pada tahap awal, pemdes menggelontorkan modal sekitar Rp 139 juta untuk membeli 500 ekor ayam. Kini, memasuki bulan ketiga produksi, ayam-ayam tersebut mampu menghasilkan 13 hingga 14 rak telur per hari.
“Harga jual Rp 50.000 per rak, pendapatan harian usaha ini mencapai sekitar Rp 650.000,” terangnya.

Seluruh telur yang dihasilkan saat ini dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, sehingga selain meningkatkan pendapatan desa, program ini juga memperkuat ketersediaan pangan lokal.
Samsu Alam menjelaskan, ayam petelur tersebut diperkirakan dapat berproduksi hingga dua tahun. Artinya, program ini berpotensi memberi pemasukan stabil dalam jangka panjang.
Dari sisi operasional, kebutuhan pakan di masa awal penggemukan mencapai 1,5 sak per hari. Setelah memasuki masa produksi, kebutuhan pakan stabil di kisaran 60 kg atau sekitar satu sak per hari.
“Harga pakan rata-rata Rp 400.000 per sak, usaha ini masih mencatat surplus sekitar Rp 250.000 per hari jika produksi berada di angka 13 rak,” ujarnya.

Operasional budidaya dikelola tiga pengurus BUMDes Mekar Abadi dibantu dua pekerja harian, masing-masing menerima honor Rp1 juta per bulan.
Ke depan, Pemdes Jabal Kubis menargetkan usaha ini dapat mandiri. Harapannya, keuntungan selama dua tahun masa produksi dapat menjadi modal pengadaan bibit ayam baru tanpa bergantung lagi pada anggaran ketahanan pangan desa.
“Setelah periode produksi selesai, kami ingin seluruh keuntungan yang terkumpul diputar kembali untuk siklus berikutnya. Kami berharap usaha ini bisa berjalan mandiri, tidak lagi bergantung pada anggaran desa,” tutur Andi.
Penulis : Astar
Editor : Andi M







Komentar