Jejak yang Terhenti di Laut Asmat, Misteri Hilangnya Michael Rockefeller

Peristiwa171 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Hilangnya Michael Rockefeller pada 1961 masih menjadi salah satu peristiwa paling membingungkan dalam sejarah eksplorasi modern.

Putra keluarga Rockefeller itu datang ke Papua untuk mendalami seni dan kebudayaan Asmat, namun perjalanan akademisnya berakhir dengan tragedi yang hingga kini tak menemukan jawaban pasti.

Dikutip dari Explorersweb, Pada 17 November, Michael, Rene Wassing, dan dua remaja Asmat sedang melintasi muara Sungai Betsj yang lebarnya 20 km ketika perahu ponton mereka terbalik akibat cuaca buruk dan arus silang. Kedua pemuda Asmat berhasil berenang ke pantai dan pergi mencari bantuan.

Michael dan Rene menghabiskan sepanjang malam berpegangan pada perahu yang terbalik. Karena khawatir mereka akan terseret semakin jauh ke laut, Michael akhirnya memutuskan untuk berenang menuju pantai yang jauh.

Ia melepas pakaian hingga tinggal pakaian dalam, mengikat dua jerigen kosong berkapasitas 18 liter di pinggangnya sebagai pelampung, dan berenang. Ia tidak pernah terlihat lagi. Sementara Rene kemudian diselamatkan oleh otoritas Belanda.

Pemerintah Belanda segera melancarkan operasi pencarian besar-besaran. Pesawat, helikopter, dan kapal patroli digerakkan menyisir garis pantai dan sungai-sungai berlumpur Asmat. Namun upaya itu berakhir tanpa hasil.

Tidak ada barang-barang pribadi, tidak ada jasad, bahkan tidak ada petunjuk kecil yang mengarah pada keberadaan Rockefeller.

Tim penyelidik akhirnya menyimpulkan bahwa Rockefeller kemungkinan besar tenggelam, terutama mengingat kondisi arus yang kuat dan jarak yang harus ia tempuh dalam keadaan kelelahan.

Meski kesimpulan resmi menyatakan ia tewas di laut, cerita lain justru berkembang di kalangan misionaris dan antropolog yang bekerja di wilayah itu.

Mereka mendengar kisah dari penduduk Asmat tentang seorang pria asing berkulit putih yang muncul dari laut di periode yang sama dengan hilangnya Rockefeller.

Versi cerita berbeda-beda, ada yang menyebut pria itu dibunuh karena disangka bagian dari pasukan kolonial Belanda, ada yang menghubungkannya dengan ritual tradisional, dan ada pula yang mengaitkan dengan konflik lama antara Asmat dan pemerintah kolonial. Namun semua itu sebatas cerita tutur, tanpa satu pun bukti fisik yang dapat menguatkan.

Beberapa dekade kemudian, jurnalis Carl Hoffman melakukan investigasi mendalam yang kemudian dituangkan dalam buku Savage Harvest.

Hoffman memetakan ulang kisah-kisah lisan yang tersebar dan menunjukkan bahwa narasi tersebut mungkin lahir dari ketegangan sejarah Asmat versus Belanda pada akhir 1950-an.

Hoffman mengakui adanya kemungkinan Rockefeller dibunuh, namun tetap menegaskan tidak ada data yang bisa memastikan hal itu.

Sementara teori yang menyebut Rockefeller hidup bersama masyarakat Asmat terbantahkan melalui analisis foto serta pertimbangan antropologis.

Kemungkinan seseorang tanpa bahasa, perlengkapan, atau pemahaman budaya bertahan lama dalam kondisi tersebut dinilai sangat kecil.

Enam dekade telah berlalu, namun hilangnya Michael Rockefeller masih mengundang rasa ingin tahu. Sebagian melihatnya sebagai tragedi yang sederhana, pemuda lelah yang tak mampu mengatasi ganasnya laut Asmat.

Bagi banyak orang, lenyapnya pewaris keluarga terkenal di kawasan yang saat itu hampir belum terpetakan membuat kisah ini terus hidup di antara fakta dan spekulasi.

Tanpa bukti fisik dan tanpa kesimpulan final, kasus ini tetap menjadi misteri yang menggantung. Sebuah cerita yang terus memicu pertanyaan sejak hari Rockefeller terakhir kali terlihat di ombak Pasifik Selatan.

Michael Rockefeller lahir pada tanggal 18 Mei 1938, dari salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di dunia. Dia adalah anak kelima dari pengusaha dan calon Wakil Presiden A.S., Nelson Rockefeller. Keluarga tersebut turut berperan dalam banyak institusi di Amerika, bahkan membantu mengembangkan kota-kota besar seperti New York.

Penulis : Mr

Editor   : Andi M

 

Komentar