KONAWE UTARA, REPUBLIX.ID – Persoalan pasokan listrik kembali menjadi sorotan serius masyarakat Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara.
Tegangan listrik yang tidak stabil dan kerap mengalami penurunan dinilai telah menyebabkan kerusakan peralatan elektronik warga serta menghambat aktivitas ekonomi, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Masalah tersebut disebut bukan hal baru. Warga menilai ketidakstabilan daya listrik telah menjadi keluhan utama selama beberapa tahun terakhir, namun hingga kini belum ada solusi konkret, baik jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Sorotan ini menguat setelah Bupati Konawe Utara menyampaikan aspirasi daerah dalam kegiatan Diseminasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 yang digelar di salah satu hotel di Kota Kendari, Senin (25/8/2025).
Menanggapi hal tersebut, warga Konawe Utara, Ikra Muhammad Fadil, S.Pd, menyampaikan apresiasi atas langkah pemerintah daerah yang telah membawa keluhan masyarakat ke forum resmi nasional. Namun ia menegaskan, penyampaian aspirasi harus diikuti dengan tindak lanjut yang jelas.
“Kami mengapresiasi respon Pemda Konawe Utara yang telah menyampaikan keluhan masyarakat terkait ketidakstabilan listrik di forum RUPTL. Tetapi Pemda jangan merasa puas. Permasalahan ini harus segera ditindaklanjuti agar tidak berlarut-larut dan menimbulkan persoalan baru,” ujar Ikra, Jumat (2/1/2026).
Ikra yang juga dikenal sebagai mantan ketua mahasiswa di ibu kota Konawe Utara menegaskan, masyarakat tidak hanya menyampaikan keluhan, tetapi juga menawarkan solusi kepada pemerintah daerah.
Menurutnya, terdapat dua langkah utama yang dapat dilakukan. Pertama, solusi jangka pendek berupa pembangunan jaringan listrik baru untuk menopang meningkatnya jumlah pengguna listrik di Konawe Utara.
Kedua, solusi jangka menengah dan panjang dengan mengusulkan pembangunan Gardu Induk (GI) atau Pusat Pembangkit Listrik di wilayah Konawe Utara, khususnya di Kecamatan Asera, sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) daerah.
“Kami berharap ada langkah awal yang nyata dari pemerintah daerah. Pembangunan gardu induk atau pusat pembangkit listrik menjadi kebutuhan mendesak agar Konawe Utara tidak terus mengalami krisis daya,” tegasnya.
Sementara itu, di tempat terpisah, Mujahidin, warga yang berdomisili di ibu kota Wanggudu, menyoroti kinerja PT PLN, khususnya Unit Asera.
Ia menilai PLN belum maksimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, karena kondisi listrik yang tidak stabil terus berulang tanpa adanya penjelasan resmi kepada warga.
“Kondisi ini sangat meresahkan dan jelas merugikan pelaku UMKM, baik di ibu kota kabupaten maupun di seluruh kecamatan di Konawe Utara. Jika terus dibiarkan, kami bersama masyarakat tidak segan mendatangi kantor PLN Unit Asera agar persoalan ini segera diselesaikan,” ujarnya.
Hingga kini, masyarakat Konawe Utara masih menunggu langkah konkret dari pemerintah daerah dan PT PLN untuk menyelesaikan persoalan kelistrikan yang dinilai krusial bagi keberlangsungan ekonomi dan kesejahteraan warga.
Penulis : Ris
Editor : Andi M







Komentar