Tiga Kelas SDN 5 Ngapa Rusak Parah, Siswa Terpaksa Belajar Darurat

Edukasi616 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Aktivitas belajar mengajar di SD Negeri 5 Ngapa, Desa Watumotaha, Kecamatan Ngapa, berlangsung dalam kondisi memprihatinkan. Tiga ruang kelas di sekolah tersebut mengalami kerusakan parah akibat pergeseran tanah yang terjadi di kawasan pegunungan tempat sekolah itu berdiri.

Kerusakan yang berlangsung sekitar satu tahun terakhir itu membuat puluhan siswa terpaksa belajar secara darurat dengan sistem penggabungan kelas. Bahkan, satu ruang kelas dilaporkan jebol dan tidak lagi layak digunakan.

“Daerahnya memang gunung-gunung, jadi tanahnya sering bergeser dan tidak stabil,” ujar Kepala Sekolah Makmur saat diwawancarai via WhatsApp, Rabu (23/5/2026).

Potret retakan pada bangunan ruang kelas di SDN 5 Ngapa. Foto: istimewa.

Sekolah Dasar (SD) Negeri 5 Ngapa diketahui memiliki enam ruang belajar (kelas) dengan jumlah siswa lebih dari 80 orang. Namun saat ini hanya tiga ruangan yang dapat digunakan untuk proses belajar mengajar.

“Kelas yang rusak itu kelas 1, 2, dan kelas 4. Bahkan ada satu ruangan yang jebol,” katanya.

Akibat keterbatasan ruang, pihak sekolah terpaksa menggabungkan sejumlah siswa dari tingkatan berbeda ke dalam ruangan yang masih layak digunakan.

“Karena yang masih bagus tinggal tiga ruangan, jadi siswa terpaksa digabung. Di dalam ruangan tetap dipisah sesuai kelas,” jelasnya.

Makmur mengungkapkan bangunan sekolah sebelumnya sempat diperbaiki. Namun, kondisi tanah yang labil membuat bangunan kembali rusak dalam waktu singkat.

“Pernah diperbaiki bagian belakangnya, tapi tidak sampai tiga bulan, jatuh lagi batu di belakang dan roboh kembali,” ungkapnya.

Kondisi tersebut telah dilaporkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten (Dikbud) Kolaka Utara. Pihak sekolah juga mendapat informasi, penanganan kemungkinan akan diusulkan melalui anggaran perubahan pada September mendatang.

Kondisi salah satu ruang belajar di SDN 5 Ngapa yang retak akibat pergeseran tanah. Foto: istimewa.

Sekolah yang berdiri sejak 2015 itu memiliki delapan tenaga pengajar dan berada sekitar 17 kilometer dari ibu kota kecamatan. Meski jaraknya tidak terlalu jauh, akses menuju sekolah membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor karena kondisi medan yang cukup berat (area pegunungan).

Pihak sekolah berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat mengingat kondisi bangunan dinilai membahayakan keselamatan siswa dan guru.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kolaka Utara, Ismail, menegaskan pihaknya telah melakukan berbagai upaya terkait penanganan ruang belajar di sekolah tersebut.

“Berbagai macam upaya telah dilakukan dan dalam proses,” jawabnya singkat melalui pesan WhatsApp.

Penulis : Astar

Komentar