Australia Tertarik Investasi Hilirisasi Kakao Kolaka Utara

Ekobis58 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Potensi komoditas perkebunan Kabupaten Kolaka Utara kembali mendapat sorotan dalam forum internasional bertajuk Kolaka Utara Industry, Trade & Investment Forum 2026 yang berlangsung di Surabaya, Senin (11/5/2026).

Dalam agenda tersebut, Australia menyatakan ketertarikannya terhadap pengembangan hilirisasi kakao, kelapa, dan cengkeh sebagai komoditas strategis berbasis ekspor.

Ketertarikan itu disampaikan perwakilan Australian Trade and Investment Commission (AUSTRADE), Aris Pratama, melalui pemaparan bertema Indonesia-Australia Partnership in Key Commodities: Cacao, Coconut, Clove.

Aris menilai Kolaka Utara memiliki kapasitas besar untuk masuk dalam rantai pasok global melalui penguatan industri pengolahan komoditas bernilai tambah.

“Indonesia and Australia have strong opportunities to build sustainable trade and investment partnerships through value-added agricultural commodities,”

“Indonesia dan Australia memiliki peluang besar untuk membangun kemitraan perdagangan dan investasi yang berkelanjutan melalui komoditas pertanian bernilai tambah,” ujar Aris Pratama dalam forum tersebut.

Menurutnya, dinamika perdagangan internasional saat ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi pasar global dari ekspor bahan mentah menuju produk hilir yang memiliki standar kualitas, keberlanjutan, dan daya saing tinggi.

Aris memaparkan, Indonesia saat ini merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia dengan pertumbuhan industri pengolahan yang semakin kompetitif.

Dalam beberapa tahun ke depan, kebutuhan impor kakao Australia diproyeksikan meningkat signifikan, terutama untuk produk turunan seperti cocoa butter, pasta kakao, dan bubuk kakao.

Data yang dipresentasikan menunjukkan nilai impor kakao Australia diperkirakan meningkat dari sekitar 709 juta dolar AS pada 2021 menjadi 1,38 miliar dolar AS pada 2025.

Sejumlah perusahaan multinasional seperti Cadbury Australia, Nestlé, Mars, Arnott’s, hingga Haigh’s Chocolate disebut menjadi bagian dari pasar potensial bagi produk hilirisasi kakao Indonesia.

“Premium cocoa products from regions like North Kolaka have the potential to enter broader international markets if supported by quality processing and sustainable supply chains,”

“Produk kakao premium dari daerah seperti Kolaka Utara memiliki potensi untuk masuk ke pasar internasional yang lebih luas apabila didukung oleh pengolahan berkualitas dan rantai pasok yang berkelanjutan,” katanya.

Selain kakao, komoditas kelapa juga dinilai memiliki prospek strategis seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk pangan sehat, minuman olahan, hingga bahan baku kosmetik berbasis alami.

Australia diproyeksikan meningkatkan impor produk kelapa dari 22 juta dolar AS pada 2021 menjadi sekitar 31,5 juta dolar AS pada 2025.

Produk yang paling banyak dibutuhkan meliputi desiccated coconut serta berbagai produk turunan lainnya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding komoditas mentah.

Aris menyebut Indonesia, termasuk Kolaka Utara, memiliki keunggulan komparatif karena didukung sumber daya perkebunan yang melimpah serta potensi pengembangan industri hilir yang luas.

Sementara itu, komoditas cengkeh juga dinilai tetap memiliki prospek pasar global yang kuat. Indonesia hingga kini tercatat sebagai produsen cengkeh terbesar dunia dengan permintaan yang terus tumbuh untuk kebutuhan industri makanan, minuman, hingga farmasi.

Australia sendiri diperkirakan meningkatkan impor cengkeh dari 1,3 juta dolar AS pada 2021 menjadi sekitar 1,6 juta dolar AS pada 2025 dengan pasokan utama berasal dari Indonesia, India, dan Vietnam.

Dalam forum tersebut, AUSTRADE juga mendorong penguatan kemitraan langsung antara pelaku usaha Indonesia dan investor Australia melalui skema business matching, transfer teknologi pertanian, serta pengembangan investasi bersama berbasis keberlanjutan.

“Collaboration in agritech, food innovation, and sustainable supply chains will become key drivers for future economic growth,”

“Kolaborasi di bidang teknologi pertanian, inovasi pangan, dan rantai pasok berkelanjutan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di masa depan,” ujar Aris.

Ia turut menekankan pentingnya optimalisasi kerja sama ekonomi Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) sebagai instrumen strategis untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia.

Selain aspek perdagangan, penerapan standar keberlanjutan berbasis ESG (Environmental, Social and Governance) serta sistem pelacakan rantai pasok dinilai menjadi faktor fundamental untuk memperkuat penetrasi produk perkebunan Indonesia di pasar internasional.

Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara menilai forum investasi tersebut menjadi momentum penting dalam mempercepat transformasi ekonomi daerah berbasis hilirisasi industri perkebunan.

Penguatan sektor kakao, kelapa, dan cengkeh diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, tetapi juga membuka ruang investasi baru dan memperluas pasar ekspor Kolaka Utara ke tingkat global.

Penulis : Ris

Komentar