“Ambruknya atap bangunan tersebut, pada Sabtu (3/1/2026) diduga kuat bukan semata akibat hujan deras dan angin, melainkan karena kesalahan teknis dalam konstruksi bangunan”
KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Sebuah bangunan dapur untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dibangun di Desa Nimbuneha, Kecamatan Ngapa, Kabupaten Kolaka Utara dilaporkan roboh.
Menurut Camat Ngapa, Abu Bakri, S.Sos. peristiwa ambruknya atap bangunan tersebut, pada Sabtu (3/1/2026) diduga kuat bukan semata akibat hujan deras dan angin, melainkan karena kesalahan teknis dalam konstruksi bangunan.
Informasi tersebut disampaikan berdasarkan laporan dari warga dan hasil peninjauan langsung sejumlah pihak ke lokasi kejadian. Mereka kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pemerintah kecamatan.
“Menurut informasi dari teman-teman yang sudah turun langsung melihat kondisi bangunan dapur MBG itu, robohnya atap diduga karena kesalahan teknis konstruksi,” ujarnya, saat dikonfirmasi via telepon, Senin (5/1/2026).
Bangunan dapur MBG tersebut disebut dibangun menyerupai gedung pertemuan terbuka. Padahal, secara teknis, bangunan dapur seharusnya memiliki sekat-sekat atau kamar yang juga berfungsi sebagai struktur penyangga.
“Mereka langsung memasang rangka atap baja, sementara sekat-sekat atau kamar yang seharusnya dibangun terlebih dahulu belum ada. Akibatnya, tidak ada tiang penyangga di bagian tengah untuk menopang atap,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, struktur bangunan atap yang menggunakan rangka baja ringan (galvalum) menjadi lemah dan tidak mampu menahan beban atap.
“Jadi robohnya atap ini tidak sepenuhnya disebabkan hujan deras dan angin, tetapi bisa juga karena kesalahan teknis,” tambahnya.
Kata Abu, dapur MBG ini direncanakan untuk melayani kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis bagi siswa Sekolah Dasar khusus yang berada di Desa Nimbuneha. Sekolah tersebut berada di wilayah pegunungan dengan akses yang sulit dan jauh dari ibu kota kecamatan.
“Mengingat lokasi sekolah yang terbilang terpencil, dapur MBG ini kemungkinan hanya akan melayani siswa SD di Desa Nimbuneha,” ujarnya.
Hingga saat ini, pembangunan dapur tersebut masih dalam tahap awal dan belum difungsikan. Belum ada aktivitas pelayanan sama sekali di lokasi.
“Saya juga tidak tahu siapa vendor atau penanggung jawab dapur MBG ini, karena tidak ada koordinasi dengan pemerintah kecamatan,” katanya.
Secara umum, program MBG di wilayah daratan Kecamatan Ngapa sudah berjalan untuk sekolah-sekolah yang mudah dijangkau. Namun, sekolah-sekolah di wilayah pegunungan masih terkendala akses.
“Jangkauannya sangat sulit. Dari kecamatan ke sekolah di wilayah pegunungan itu bisa berjam-jam. Kalau makanan diantar dari bawah, belum sampai ke sekolah sudah basi,” jelasnya.
Beberapa desa yang hingga kini belum terjangkau layanan MBG antara lain Desa Nimbuneha, Koreiha, Watumotaha, dan Parutellang. Bahkan, jika menggunakan jasa ojek khusus medan berat (hartop), biaya sekali perjalanan bisa mencapai Rp2 juta.
“Setahu saya belum terjangkau semua. Medannya sangat sulit,” ungkapnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Program MBG sebagai program nasional harus menjangkau seluruh siswa tanpa terkecuali, termasuk mereka yang berada di daerah terpencil.
“Program MBG ini program nasional dan wajib semua siswa menikmatinya. Tidak boleh ada diskriminasi. Anak-anak di daerah pegunungan juga anak-anak bangsa,” tegasnya.
Peristiwa robohnya atap dapur MBG ini diharapkan menjadi evaluasi serius agar pembangunan fasilitas pendukung program nasional tersebut dilakukan sesuai standar teknis, terutama di wilayah dengan kondisi geografis ekstrem.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak vendor maupun penanggung jawab dapur MBG terkait penyebab pasti robohnya atap bangunan serta langkah tindak lanjut yang akan dilakukan.
Penulis : Astar
Editor : Andi M







Komentar