KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Sebanyak delapan ekor sapi milik Pung Baso, warga Desa Pohu, Kecamatan Ranteangin, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, ditemukan mati pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Pemilik menduga ternak tersebut mati akibat diracun. Dugaan itu muncul setelah seluruh sapi ditemukan dalam kondisi tidak biasa, di antaranya mulut berbusa hingga mengeluarkan darah saat buang air besar.
Peristiwa tersebut pertama kali diketahui Pung Baso setelah menerima telepon dari seorang warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian, sekitar pukul 13.00 Wita.
“Kejadiannya hari Sabtu sekitar jam 1 siang, saya ditelepon sama orang dekat situ. Katanya ada empat sapi yang tergeletak. Di tempat lain satu dan tiga,” katanya, Senin (2/11/2026).
Menurut Pung Baso, delapan ekor sapi tersebut ditemukan di tiga titik berbeda yang lokasinya saling berdekatan. Rinciannya, empat ekor ditemukan di titik pertama, tiga ekor di titik kedua, dan satu ekor lainnya di titik ketiga.
Seluruh ternak tersebut ditemukan dalam kondisi mati di luar area kandang.
Kecurigaan adanya dugaan peracunan semakin menguat setelah melihat kondisi fisik ternaknya. Seluruh sapi memperlihatkan gejala yang dinilai tidak wajar sebelum ditemukan mati.
“Dugaan kami memang diracun karena ditemukan kedelapan sapi dalam kondisi mulut berbusa sampai berak darah,” tuturnya.
Pung Baso menegaskan, sapi-sapi tersebut bukan ternak liar yang dibiarkan berkeliaran. Ia mengaku memiliki kandang khusus dengan luas lahan lebih dari delapan hektare.
Area peternakan itu juga dikelilingi kawat sebanyak empat susun. Meski kandang dibuat terbuka, akses keluar masuk ternak tetap dibatasi dengan pintu kandang.
Di dalam area tersebut juga terdapat tanaman kelapa produktif. Warga sekitar terkadang masuk ke kawasan kandang untuk memungut buah kelapa.
Pung Baso menduga ada pihak lain yang sengaja membuka pintu kandang sehingga sapi-sapinya keluar dari area peternakan. Namun, siapa yang membuka pintu tersebut dan apa penyebab pasti kematian delapan sapi itu masih perlu dipastikan.
“Bisa jadi ada orang yang sengaja membuka pintu kandang sehingga ternak keluar dari kandang kemudian kena racun,” ungkapnya.
Akibat peristiwa tersebut, Pung Baso mengalami kerugian yang ditaksir mencapai lebih dari Rp100 juta.
Ia berharap kepolisian segera melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian delapan ekor sapi tersebut sekaligus mengungkap pihak yang bertanggung jawab apabila ditemukan adanya unsur kesengajaan.
“Kami berharap kepolisian dapat mengusut tuntas masalah ini dan secepatnya pelaku ditindaki. Soalnya banyak sekali ini, kasihan,” katanya.
Penulis: Ris








