Harga Cabai di Kolaka Utara Melonjak, Rawit Tembus Rp180 Ribu per Kilogram

Ekobis1147 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Harga sejumlah kebutuhan pokok di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, mengalami kenaikan dalam hampir sebulan terakhir. Cabai menjadi komoditas yang paling mencolok. Harga cabai rawit menembus Rp180 ribu per kilogram, sedangkan cabai keriting dan cabai besar juga menyentuh kisaran di atas Rp100 ribu per kilogram.

Lonjakan harga itu dirasakan langsung pedagang di Pasar Sentral Lacaria, Lasusua. Mama Salsa, pedagang sembako dan sayuran, mengatakan kenaikan harga terjadi pada berbagai komoditas yang biasa dibeli masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Ia menilai kenaikan harga cabai rawit kali ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Selama bertahun-tahun berjualan, Mama Salsa mengaku belum pernah menghadapi lonjakan harga sebesar sekarang.

“Sudah lama saya menjual, baru kali ini harganya naik luar biasa. Dulu itu paling naiknya sampai Rp60 ribu per kilogram. Sekarang tembus Rp120 ribu per kilogram. Itu harga terendah,” tuturnya, Selasa (20/10/2026).

Bagi pedagang, kenaikan harga membuat biaya belanja barang dari pemasok ikut membengkak. Mereka harus menyesuaikan harga jual agar tetap bisa berjualan. Namun, semakin mahal harga komoditas, semakin besar pula pengeluaran yang harus disiapkan konsumen untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Tekanan harga tidak hanya terjadi pada cabai. Mama Salsa menyebut harga tomat di Pasar Sentral Lacaria berada di kisaran Rp18 ribu per kilogram. Kol, wortel, cabai keriting, dan cabai besar juga mengalami kenaikan.

Data Dinas Perdagangan Kolaka Utara menunjukkan harga cabai rawit berada pada rentang Rp150 ribu hingga Rp180 ribu per kilogram. Cabai keriting dijual Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram, sedangkan cabai besar berkisar Rp90 ribu hingga Rp130 ribu per kilogram.

Komoditas lain turut mengalami kenaikan. Harga bawang merah tercatat Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, wortel Rp28 ribu hingga Rp30 ribu, kentang Rp25 ribu hingga Rp28 ribu, serta tomat Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Sayur kol juga dilaporkan mengalami kenaikan.

Perbedaan harga tomat yang disampaikan pedagang dengan data dinas menunjukkan adanya variasi harga di lapangan. Harga jual dapat berbeda menurut waktu transaksi, kualitas barang, dan kondisi pasokan.

Kasi Analisis Perdagangan Dinas Perdagangan Kolaka Utara, Astri, mengatakan salah satu faktor yang memengaruhi kenaikan harga adalah terhentinya pasokan hortikultura dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Daerah tersebut selama ini menjadi salah satu pemasok komoditas sayuran ke Kolaka Utara.

“Pasokan dari Enrekang ini sudah tidak ada disebabkan gagal panen akibat kemarau panjang,” kata Astri, Rabu (21/10/2026).

Terhentinya pasokan membuat ketersediaan barang di pasar semakin terbatas. Ketika pasokan dari luar daerah terganggu, pedagang kesulitan memperoleh komoditas dengan harga sebelumnya, sedangkan kebutuhan konsumen tetap berlangsung.

Untuk membantu menjaga keterjangkauan harga, Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara berencana menggelar operasi pasar. Namun, intervensi tersebut belum dapat menjangkau komoditas yang mengalami lonjakan paling tajam, yakni cabai.

Astri mengatakan operasi pasar direncanakan menyediakan beras, telur, minyak goreng, dan gula pasir. Cabai serta sejumlah komoditas lainnya belum bisa disiapkan karena keterbatasan stok.

“Kebutuhan pokok yang disiapkan seperti beras, telur, minyak, dan gula pasir. Untuk komoditas cabai dan lainnya tidak disiapkan karena stok tidak ada,” ujarnya.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa upaya menjaga stabilitas harga tidak cukup hanya dengan menyediakan sejumlah kebutuhan pokok melalui operasi pasar. Kelancaran pasokan dari daerah pemasok juga menjadi faktor penting, terutama bagi komoditas hortikultura yang harganya melonjak tajam ketika ketersediaan barang menurun.

Penulis: Ris