Baharuddin Lopa dan Setetes Bensin yang Mengajarkan Arti Integritas

Oase245 Dilihat

REPUBLIX.ID – Di tengah maraknya kasus korupsi yang merugikan negara hingga triliunan rupiah, nama Baharuddin Lopa tetap dikenang sebagai simbol integritas dan keberanian dalam menegakkan hukum di Indonesia.

Pria yang akrab disapa Barlop itu memiliki rekam jejak karier yang cemerlang. Ia pernah menjabat Bupati Majene pada usia 25 tahun, kemudian mengemban berbagai jabatan strategis di lingkungan kejaksaan hingga akhirnya dipercaya menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia sekaligus Menteri Kehakiman dan Perundang-undangan pada tahun 2001.

Semasa hidupnya, Baharuddin Lopa dikenal sebagai sosok yang tegas terhadap pelaku korupsi tanpa memandang status maupun kedudukan.

Ia berani mengusut berbagai kasus besar yang melibatkan tokoh-tokoh berpengaruh, termasuk kasus yang menyeret sejumlah pengusaha dan pejabat tinggi negara.

Namun, ketegasan Lopa tidak hanya terlihat dalam perkara besar. Integritasnya justru tercermin dari hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian.

Salah satu kisah yang hingga kini masih dikenang terjadi saat ia menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Ketika melakukan kunjungan kerja ke salah satu kabupaten, Lopa dan rombongan menggunakan kendaraan dinas. Dalam perjalanan pulang, ia tiba-tiba meminta sopir menghentikan mobil.

Lopa kemudian bertanya kepada ajudannya, “Siapa yang mengisi bensin mobil ini?”

Dengan jujur ajudannya menjawab bahwa bensin tersebut diisikan oleh seorang jaksa di daerah yang mereka kunjungi.

Mendengar jawaban itu, Lopa langsung memerintahkan kendaraan berbalik arah menuju kantor jaksa tersebut. Sesampainya di sana, ia meminta agar bensin yang telah diisikan ke mobilnya disedot kembali sesuai jumlah yang diberikan.

Ia menolak menerima fasilitas tersebut karena merasa sudah mendapatkan uang perjalanan dinas yang memang diperuntukkan untuk kebutuhan operasional, termasuk membeli bahan bakar kendaraan.

“Saya punya uang jalan untuk beli bensin, dan itu harus saya pakai,” ujar Lopa saat itu.

Bagi sebagian orang, bensin yang diisikan mungkin dianggap hal sepele. Namun bagi Baharuddin Lopa, menerima sesuatu yang bukan haknya, sekecil apa pun nilainya, adalah bentuk pelanggaran terhadap prinsip yang ia pegang teguh.

Kisah sederhana ini menjadi pengingat bahwa integritas tidak hanya diuji ketika seseorang berhadapan dengan uang miliaran rupiah atau jabatan tinggi. Integritas justru dimulai dari keputusan-keputusan kecil dalam kehidupan sehari-hari.

Warisan terbesar Baharuddin Lopa bukan hanya keberaniannya memburu koruptor, melainkan teladan tentang bagaimana seorang pejabat negara menjaga amanah dengan penuh kejujuran.

Penulis : Ris (Dikutip dari berbagai sumber)

Komentar