BUMDes Bangunan Jaya Sukses Kembangkan Ayam KUB, Desa Toaha Tunjukkan Model Nyata Ketahanan Pangan

Ekobis605 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Program ketahanan pangan desa di Desa Toaha, Kecamatan Pakue, Kabupaten Kolaka Utara, mulai menunjukkan hasil konkret. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bangunan Jaya, pemerintah desa berhasil mengembangkan budidaya ayam kampung unggul (KUB) pedaging sebagai instrumen penguatan ekonomi berbasis potensi lokal.

Kepala Desa Toaha, Sunardi, S.H., menjelaskan bahwa komoditas ayam KUB dipilih karena memiliki keunggulan komparatif, baik dari sisi siklus produksi yang relatif singkat, nilai ekonomis, maupun daya serap pasar.

“Program ketahanan pangan desa tematik ini kami fokuskan pada ayam KUB pedaging. Pada tahap awal, kami mengelola sekitar 1.000 ekor dan dalam waktu 2 bulan 10 hari sudah bisa dipanen,” ujar Sunardi, Senin (4/5/2026).

Dari total produksi tersebut, sekitar 700 ekor telah terjual dengan nilai transaksi mencapai puluhan juta rupiah. Harga jual berada pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp80 ribu per ekor, tergantung ukuran dan bobot, sementara ayam betina dipasarkan sedikit lebih rendah dengan selisih sekitar Rp5 ribu dibanding ayam jantan.

Kepala Desa Toaha, Sunardi, S.H., menetapkan budidaya ayam KUB pedaging sebagai program unggulan ketahanan pangan Desa Toaha tahun 2025, yang kini mulai menunjukkan hasil nyata dalam mendongkrak ekonomi desa. Foto: Astar

Menurut Sunardi, struktur harga tersebut masih kompetitif dan adaptif terhadap dinamika pasar lokal. Segmentasi pemasaran mencakup rumah makan hingga kebutuhan masyarakat desa, khususnya pada kegiatan sosial seperti hajatan.

“Permintaan cukup tinggi karena di wilayah Kecamatan Pakue belum banyak desa yang mengembangkan sektor peternakan sebagai program ketahanan pangan. Ini menjadi keunggulan tersendiri bagi kami,” jelasnya.

Distribusi ayam KUB juga telah menjangkau luar daerah, termasuk Kabupaten Luwu Timur. Salah satu mitra usaha bahkan mampu menyerap hingga 300 ekor ayam dalam dua hari, atau rata-rata 100 ekor per hari.

Dari aspek tata kelola, BUMDes Bangunan Jaya mulai menerapkan pola reinvestasi berbasis hasil usaha. Setelah menyelesaikan siklus produksi pertama, pengelola melakukan evaluasi teknis sebelum kembali mengisi kandang menggunakan modal internal dari hasil penjualan sebelumnya.

Program ini juga memberikan dampak sosial melalui penyerapan tenaga kerja lokal, meskipun masih dalam skala terbatas.

Namun demikian, keberlanjutan program menghadapi tantangan struktural, terutama terkait kebijakan alokasi Dana Desa tahun 2026 yang diproyeksikan lebih difokuskan pada belanja rutin seperti gaji dan operasional. Kondisi ini berpotensi membatasi ruang pengembangan usaha produktif BUMDes.

Sebagai strategi jangka menengah, BUMDes Bangunan Jaya merencanakan diversifikasi usaha melalui pengembangan ayam petelur dengan kapasitas awal 1.000 ekor dan estimasi anggaran sekitar Rp200 juta. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan arus pendapatan yang lebih stabil melalui produksi telur harian.

Selain itu, sektor perikanan juga mulai disiapkan sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan terpadu. Kolam budidaya ikan lele berukuran 8×20 meter telah dibangun dan saat ini menunggu proses survei serta pendampingan teknis dari dinas terkait.

Sunardi berharap pemerintah daerah melalui dinas teknis dapat lebih responsif dalam mengidentifikasi serta mendukung desa-desa yang memiliki komitmen dalam pengembangan sektor peternakan.

“Dengan pendekatan desa tematik, kami optimistis sektor peternakan dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat secara berkelanjutan,” pungkasnya.

Penulis : Astar

Komentar