KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Pasar Rakyat Watumea di Desa Watumea, Kecamatan Tiwu, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, yang dibangun menggunakan anggaran negara senilai lebih dari Rp5,6 miliar hingga kini belum berfungsi optimal dan terbengkalai selama lebih dari enam tahun.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Bangunan pasar yang terletak sekitar 150 meter dari jalan poros Trans Sulawesi itu tampak tidak terawat. Rumput liar tumbuh di area bangunan pasar, sementara sejumlah pintu kios mengalami kerusakan hingga raib.
Kepala Seksi Analisis Perdagangan Dinas Perdagangan Kolaka Utara, Apdal, S.E., membenarkan, pasar tersebut dibangun menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2018 dengan total anggaran mencapai Rp. 5.658.984.341.
“Pasar itu dibangun tahun 2018 menggunakan APBN sekitar Rp5,6 miliar,” kata Apdal saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, pasar sempat difungsikan pada tahun 2020 untuk aktivitas jual beli. Namun operasional pasar terhenti akibat pandemi COVID-19 dan hingga kini belum kembali aktif secara maksimal.
“Pernah beroperasi, tetapi karena Covid-19 aktivitas kembali terhenti dan sejak saat tidak berfungsi lagi,” ujarnya.
Selain faktor pandemi, lanjut Apdal, pedagang juga enggan berjualan karena lokasi pasar dinilai kurang strategis serta ukuran kios yang terlalu sempit.
“Salah satu keluhan pedagang juga karena kiosnya sangat sempit. Mau diapakan lagi, desainnya memang dari pemerintah pusat,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, para pedagang bahkan sempat mengusulkan agar dua kios digabung menjadi satu dengan membongkar dinding pembatas. Namun usulan tersebut belum dapat direalisasikan karena keterbatasan kewenangan.
“Tempo hari ada tawaran dari penjual untuk menyatukan dua losmen menjadi satu dengan cara menjebol dinding kios, hanya saja kami dari Dinas Perdagangan tidak berani melakukan itu,” katanya.
Tak hanya itu, banyaknya jadwal pasar dalam sepekan di wilayah Kecamatan Kodeoha juga disebut menjadi penyebab minimnya aktivitas di Pasar Watumea. Pasar Desa Meeto yang beroperasi dua kali dalam seminggu dinilai lebih diminati pedagang karena memiliki jumlah pembeli lebih ramai.
“Kami sudah pernah meminta agar durasi pasar di Meeto dikurangi dari dua hari menjadi satu hari, tapi ditolak pengelola,” ungkapnya.
Menurut Apdal, jarak Pasar Meeto dan Pasar Watumea yang berdekatan membuat pedagang lebih memilih berjualan di lokasi yang dianggap lebih menguntungkan.
“Ini berpengaruh juga karena pasar Desa Meeto bisa dikatakan berdekatan dengan pasar di Desa Watumea. Tentu pedagang lebih memilih berjualan di Meeto. Andai saja pengelola mau mengurangi, tentu Pasar Watumea bisa kembali berfungsi,” tambahnya.
Meski demikian, Dinas Perdagangan Kolaka Utara mengaku terus berupaya agar pasar tersebut dapat dimanfaatkan sesuai peruntukannya dan tidak terbengkalai begitu saja.
“Kami terus berupaya agar pasar ini dapat digunakan sesuai peruntukannya,” pungkasnya.
Penulis : Ris








Komentar