Gempa M7,7 Guncang NTT, 47 Orang Meninggal dan Lebih dari 5.000 Warga Mengungsi

Berita Foto98 Dilihat

NTT, REPUBLIX.ID – Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026), meninggalkan kerusakan besar. Sedikitnya 47 orang meninggal dunia, 101 warga terluka, dan lebih dari 5.000 jiwa terpaksa mengungsi akibat bencana tersebut.

Dilansir dari BNPB, berdasarkan pemutakhiran data per Minggu (16/8) pukul 00.00 WIB, jumlah pengungsi terbesar berada di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa.

Sebanyak 1.356 warga mengungsi di GOR Samador, sementara 2.000 lainnya memilih mengungsi secara mandiri yang tersebar di 10 titik.

Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar berikutnya, yakni mencapai 2.078 jiwa. Sementara itu, sekitar 500 warga lainnya mengungsi di Kabupaten Nagekeo. Dampak gempa juga dirasakan hingga wilayah Bima dan Kepulauan Selayar.

Kondisi para pengungsi kini menjadi perhatian utama pemerintah. Di Kabupaten Manggarai, kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi antara lain puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, tandon air bersih, hingga genset.

47 Nyawa Melayang

Gempa tersebut juga menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga pemutakhiran terakhir, sebanyak 47 orang dinyatakan meninggal dunia.

Korban terbanyak tercatat di Kabupaten Manggarai dengan 23 orang, disusul Manggarai Timur 17 orang. Kemudian Sikka empat orang, Manggarai Barat satu orang, Ende satu orang, dan Nagekeo satu orang.

Selain korban meninggal, sebanyak 101 warga dilaporkan mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.

Situasi semakin kompleks karena gempa utama telah diikuti 341 kali aktivitas gempa susulan.

Ratusan Rumah dan Fasilitas Publik Rusak

Guncangan kuat juga menyebabkan kerusakan bangunan dalam skala luas.

Data sementara di wilayah NTT mencatat 914 rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.

Kerusakan juga melanda fasilitas publik. Sedikitnya 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintahan dilaporkan terdampak.

Pemerintah dan tim gabungan masih melakukan pendataan serta verifikasi untuk memastikan jumlah kerusakan dan korban di seluruh wilayah terdampak.

NTT Siapkan Tanggap Darurat

Merespons besarnya dampak bencana, Pemerintah Provinsi NTT tengah memproses keputusan penetapan status tanggap darurat selama 14 hari.

Sejumlah pemerintah kabupaten terdampak juga telah menetapkan status kedaruratan masing-masing.

Kabupaten Manggarai menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 90 hari, terhitung 15 Agustus hingga 13 November 2026, melalui Keputusan Bupati Nomor 319 Tahun 2026. Pemerintah daerah juga membentuk pos komando melalui Keputusan Bupati Nomor 320 Tahun 2026.

Di Kabupaten Ngada, masa Tanggap Darurat Bencana dan pembentukan Pos Komando ditetapkan selama 30 hari, mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026, melalui Keputusan Bupati Nomor 441 dan Nomor 442/KEP/HK/2026.

Sementara Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status Siaga Darurat Bencana hingga 4 September 2026 melalui Keputusan Bupati Nomor HK/141/Tahun 2026.

Untuk memperkuat pelayanan kesehatan, rumah sakit lapangan telah didirikan dan mulai beroperasi di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.

Sejumlah Akses Masih Terputus

Di tengah upaya evakuasi dan distribusi bantuan, akses transportasi menjadi tantangan tersendiri.

Jalur darat Larantuka–Maumere saat ini telah kembali terhubung dan dapat dilalui. Namun, akses penghubung Ende–Nagekeo masih terputus akibat dampak gempa.

Tim penanganan bencana masih berupaya mencari jalur alternatif untuk memastikan mobilitas personel, evakuasi warga, serta distribusi logistik tetap berjalan.

Dengan puluhan korban jiwa, ribuan warga mengungsi, dan ratusan bangunan rusak, penanganan pascagempa NTT masih memasuki fase kritis. Tim gabungan bersama BPBD terus menyisir wilayah terdampak untuk memastikan tidak ada korban maupun kebutuhan warga yang terlewatkan.

Penulis : Ris