Investor Jepang Berkunjung ke Desa Awo, Menakar Potensi Kakao dari Kebun hingga Pascapanen

Ekobis437 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Tiga investor asal Nagoya, Jepang, menyambangi sentra perkebunan kakao di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara. Kunjungan itu tidak berhenti pada observasi tanaman, tetapi merambah aspek teknis budidaya, produktivitas, hingga penanganan pascapanen yang menentukan mutu dan karakter biji kakao.

Rombongan mengunjungi kebun kakao milik petani yang tergabung dalam kelompok tani Desa Kakao Mandiri Madani, binaan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kolaka Utara, di Desa Awo, Kecamatan Kodeoha, Senin, 10 Agustus 2026.

Delegasi terdiri atas Direktur Utama PT Higuchi Cacao Farm Kazunori Higuchi, Ketua Umum Asosiasi APW Business Cooperative Kazuyoshi Noguchi, dan anggota parlemen Kota Tokoname Takaharu Nakamura. Mereka didampingi Alimin Badabi dan Samsir Hidayat dari tim Business Promotion sebagai penerjemah.

Di kebun tersebut, Higuchi mengamati pola tanam dan kondisi tajuk tanaman kakao. Ia menilai sebagian tanaman memiliki jarak tanam yang relatif rapat sehingga memerlukan pengelolaan tajuk melalui pemangkasan.

Menulis Anggota Parlemen Kota Tokoname, Takaharu Nakamura (tengah) bersama Direktur Utama PT Higuchi Cacao Farm, Kazunori Higuchi (kanan) mengunjungi perkebunan kakao milik warga di Desa Awo, Kecamatan Kodeoha. Foto: Ris/Republix.id

Menurut dia, kepadatan tanaman perlu dikendalikan untuk menjaga penetrasi cahaya dan sirkulasi udara di dalam kebun. Pengelolaan tajuk menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan mikroklimat yang mendukung produktivitas sekaligus menekan potensi gangguan penyakit.

Meski menemukan persoalan pada jarak tanam, Higuchi mengapresiasi teknik pemeliharaan yang diterapkan petani Desa Awo. Salah satunya adalah polinasi buatan, yakni membantu proses penyerbukan bunga kakao secara manual untuk meningkatkan peluang terbentuknya buah.

“Ini jarak tanam masih terlalu rapat, kakaonya juga masih membutuhkan pemangkasan. Untuk menghasilkan buah, sistem shido polinase atau perkawinan yang dilakukan secara manual ini bagus,” ujar Higuchi melalui penerjemahnya.

Ia juga menyoroti teknik perbanyakan tanaman melalui sambung pucuk yang telah diterapkan petani. Menurut Higuchi, metode tersebut memiliki kesamaan dengan teknik budidaya kakao yang digunakan di Vietnam.

Praktisi kakao Kolaka Utara, Chaerun Haes Korowi (kanan), menjelaskan proses penyambungan dan perawatan bibit kakao kepada anggota parlemen Kota Tokoname, Takaharu Nakamura. Foto: Ris/Republix.id

Sambung pucuk merupakan salah satu teknik perbanyakan vegetatif yang memungkinkan petani mempertahankan karakter unggul tanaman induk sekaligus mempercepat pembentukan tanaman produktif. Teknik ini menjadi penting dalam program peningkatan produktivitas tanaman kakao, terutama ketika petani ingin memperbaiki kualitas bahan tanaman tanpa sepenuhnya melakukan penanaman dari biji.

Dialog antara investor dan petani kemudian berkembang ke berbagai aspek teknis budidaya. Diskusi dipandu praktisi kakao Kolaka Utara, Chaerun Haes Korowi, bersama Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kolaka Utara H. Kamal Mustafa, S.Pi., M.M., Sekretaris Dinas Perindustrian Abdul Kahar, S.Sos., serta sejumlah petani.

Pembahasan mencakup teknik sambung pucuk dan sambung samping, metode penyambungan, pemilihan bahan tanaman, penggunaan entres, seleksi benih yang memiliki ketahanan terhadap penyakit, hingga ukuran polybag untuk pembibitan.

Bagi delegasi Jepang, aspek tersebut menjadi bagian penting untuk membaca konsistensi pasokan bahan baku. Kualitas kakao tidak hanya ditentukan oleh varietas dan kondisi kebun, tetapi juga oleh keseragaman bahan tanaman, praktik pemeliharaan, serta penanganan buah sejak dipanen.

Para investor kemudian mengamati buah kakao matang yang baru dipanen. Mereka melihat ukuran buah, kondisi biji, tekstur, serta mencermati aroma biji kakao sebelum menjalani proses pascapanen.

Higuchi mengatakan aroma biji kakao pada saat baru dipanen relatif tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Perbedaan karakter justru mulai terbentuk setelah biji memperoleh perlakuan pascapanen.

“Secara umum aroma biji kakao yang baru panen itu sama. Yang membedakan perlakuan setelah panen,” katanya.

Tahapan tersebut mencakup fermentasi dan pengeringan, dua proses yang berperan penting dalam pembentukan prekursor aroma dan cita rasa kakao. Fermentasi yang terkontrol dapat memengaruhi perkembangan senyawa pembentuk flavor, sedangkan pengeringan menentukan kadar air dan stabilitas biji selama penyimpanan.

Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa perhatian calon investor terhadap kakao Kolaka Utara tidak semata-mata bertumpu pada ketersediaan bahan baku. Mereka juga mengamati bagaimana petani mengelola tanaman, mempertahankan produktivitas, dan menghasilkan biji dengan karakter yang dapat memenuhi kebutuhan industri.

Penulis: Ris