KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Biji kakao asalan atau nonfermentasi dari Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, menarik perhatian investor asal Nagoya, Jepang. Mereka menilai ukuran dan kualitas fisik biji kakao yang diperlihatkan petani memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai bahan baku industri.
Ketertarikan itu disampaikan Direktur Utama PT Higuchi Cacao Farm, Kazunori Higuchi, setelah melihat langsung sampel biji kakao kering milik petani di Desa Kakao Mandiri Madani, Desa Awo, Kecamatan Kodeoha, pada Senin, 10 Agustus 2026.
Melalui penerjemahnya, Samsir Hidayat, Higuchi mengatakan karakter fisik biji kakao Kolaka Utara yang dilihatnya bahkan lebih baik dibandingkan sampel kakao asal Kanada yang mereka bawa untuk diperlihatkan kepada petani.

“Ukuran dan kualitas biji kakao ini sangat bagus. Jauh lebih bagus daripada sampel biji kakao asal Kanada yang kami bawa dan teman-teman petani lihat. Biji kakao seperti inilah yang kami cari,” kata Higuchi melalui Samsir.
Namun, investor Jepang tersebut mencatat satu aspek yang masih perlu diperbaiki, yakni aroma biji kakao. Menurut dia, aroma sampel dari Desa Awo belum sekuat biji kakao asal Kanada.
Higuchi menduga perbedaan tersebut berkaitan dengan proses pascapanen, terutama tingkat kekeringan biji.
“Bijinya bagus, hanya aromanya masih kalah dari biji kakao asal Kanada. Mungkin karena perlakuan dan proses pengeringannya belum sempurna,” ujarnya.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Kolaka Utara, H. Kamal Mustafa, S.Pi., M.M., membenarkan evaluasi tersebut. Ia mengatakan sampel yang diperlihatkan kepada investor memang belum mencapai tingkat kekeringan optimal karena baru menjalani proses pengeringan selama dua hari.
“Mereka senang dengan kualitas dan ukuran biji kakao kita. Hanya aspek aromanya. Sampel yang kami berikan memang belum kering sempurna. Baru dua hari dikeringkan dan kondisi itu dapat mempengaruhi aroma biji kakao,” kata Kamal.

Kunjungan investor Jepang tersebut tidak sekadar melihat komoditas kakao dari sisi produksi primer. Mereka juga mempelajari rantai nilai kakao Kolaka Utara, mulai dari teknik budidaya, produktivitas tanaman, karakteristik biji, hingga penanganan pascapanen.
Rombongan mengunjungi kebun kakao milik petani yang tergabung dalam kelompok Desa Kakao Mandiri Madani, binaan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kolaka Utara.
Di lokasi, para investor berdialog dengan petani dan mengamati sampel biji kakao kering nonfermentasi. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai teknologi fermentasi biji kakao berbasis probiotik serta berbagai produk olahan kakao.
Diskusi tersebut membuka kemungkinan kerja sama yang lebih jauh. Investor Jepang bahkan menyampaikan ketertarikan terhadap peluang pembangunan industri pengolahan biji kakao di Kolaka Utara apabila ketersediaan bahan baku, mutu, dan kontinuitas produksi memenuhi kebutuhan industri.
Rombongan investor terdiri atas Kazunori Higuchi, Ketua Umum Asosiasi APW Business Cooperative Kazuyoshi Noguchi, dan anggota parlemen Kota Tokoname Takaharu Nakamura. Mereka didampingi Alimin Badabi dan Samsir Hidayat dari tim Business Promotion.
Kunjungan tersebut turut didampingi Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kolaka Utara H. Kamal Mustafa, Sekretaris Dinas Perindustrian Abdul Kahar, S.Sos., praktisi kakao, serta sejumlah petani binaan Desa Kakao Mandiri Madani.
Selain Desa Awo, rombongan bertemu dengan Bupati Kolaka Utara Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H. Mereka juga mengunjungi PT Afnan Syari’ah di Desa Watunohu, Kecamatan Watunohu, yang bergerak dalam pengolahan biji kakao kering.
Bagi Kolaka Utara, perhatian investor tersebut memberi sinyal bahwa mutu fisik biji kakao lokal memiliki daya saing untuk masuk ke rantai pasok industri global. Tantangannya kini bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi memastikan standar pascapanen termasuk fermentasi, pengeringan, kadar air, dan pembentukan aroma dapat dikendalikan secara konsisten.
Dengan demikian, ketertarikan investor Jepang terhadap kakao Kolaka Utara tidak berhenti pada ukuran biji. Mutu pascapanen menjadi faktor penentu apakah potensi komoditas tersebut dapat ditransformasikan menjadi produk bernilai tambah dan membuka jalan bagi hilirisasi kakao di daerah.
Penulis: Ris








