SMPN 8 Kolaka Utara Bangun Musala dari Sedekah, Gotong Royong, dan Jejak Alumni

Edukasi262 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Fondasi itu belum banyak menunjukkan bentuk bangunan yang kelak berdiri di atasnya. Namun, dari sana terlihat bagaimana sebuah sekolah mengumpulkan kekuatan dari berbagai arah. Siswa, guru, masyarakat hingga alumni.

Fondasi tersebut merupakan bagian awal pembangunan musala baru di SMP Negeri 8 Kolaka Utara, yang terletak di Desa Lawadia, Kecamatan Tiwu, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara.

Musala lama di sekolah itu sudah tidak lagi memadai untuk menampung seluruh aktivitas ibadah siswa. Pada waktu tertentu, siswa harus bergantian menggunakannya. Sebagian lainnya melaksanakan salat di aula yang juga digunakan untuk kegiatan sekolah dan olahraga. Kondisi itu mendorong sekolah merencanakan pembangunan musala baru.

Kepala SMP Negeri 8 Kolaka Utara, Hatta, ST, mengatakan kebutuhan tersebut tidak bisa terus ditunda. Musala baru dirancang berukuran sekitar 12 x 17 meter dengan kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp200 juta hingga Rp300 juta.

“Saat ini musala tidak difungsikan karena masih dalam proses pembangunan,” kata Hatta, Rabu, 16 September 2026.

Besarnya kebutuhan anggaran membuat sekolah memilih memulai pembangunan melalui swadaya. Pembangunan tidak menunggu seluruh biaya tersedia. Pada Ramadan lalu, sekolah mengedarkan amplop sedekah kepada siswa untuk dibawa kepada masyarakat.

Program sedekah Jumat juga dijalankan. Alumni kemudian dilibatkan dengan mendatangi sejumlah lulusan untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan. Dari berbagai sumber tersebut, terkumpul hampir Rp20 juta.

Dana itu menjadi modal awal untuk mengerjakan fondasi. Nilainya memang belum sebanding dengan kebutuhan pembangunan yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

Namun, bagi sekolah, uang tersebut memiliki arti yang lebih luas. Ia menunjukkan adanya kepedulian yang dapat dikumpulkan sedikit demi sedikit menjadi bagian dari pembangunan.

“Dengan anggaran yang terkumpul saat ini hampir Rp20 juta, kami berupaya membangun pondasi dengan slop dulu agar bukti fisiknya dapat terlihat cepat sambil terus berupaya agar ada tambahan dana,” ujar Hatta.

Sekolah kini berencana mengajukan dukungan kepada sejumlah lembaga, termasuk Baznas Kolaka Utara, Dinas Sosial, dan Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara.

Target terdekat adalah membuat bangunan mencapai tahap pemasangan atap. Setelah itu, musala diharapkan dapat digunakan secara bertahap meski pembangunan belum sepenuhnya selesai.

Bagi Hatta, musala memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat melaksanakan salat. Ruang tersebut diharapkan menjadi bagian dari pembinaan keagamaan siswa.

Sekolah selama ini menjalankan program baca tulis Al-Qur’an tiga hingga empat kali dalam sepekan.

“Selain pelajaran umum, saat ini kami juga tengah mengembangkan program baca tulis Al-Quran anak didik yang berlangsung tiga sampai empat kali dalam seminggu. Ini penting untuk meningkatkan BTQ dan pemahaman agama siswa,” kata Hatta.

Dengan begitu, pembangunan musala dan program keagamaan berada dalam satu rangkaian. Bangunan menyediakan ruang, sementara kegiatan pendidikan keagamaan menghidupkan ruang tersebut.

Musala itu belum selesai. Atapnya bahkan belum terpasang. Tetapi fondasinya sudah berdiri dari uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit.

Dari sedekah siswa, kepedulian guru, bantuan masyarakat hingga jejak alumni, pembangunan itu memperlihatkan bahwa keterbatasan anggaran tidak selalu berarti ketiadaan sumber daya.

Penulis: Astar