KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Upaya mendorong kopi sebagai komoditas unggulan bernilai tambah terus dipacu Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara. Melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak), penguatan sektor hulu hingga hilir kini menjadi fokus, seiring dorongan agar petani tak lagi sekadar produsen bahan mentah, tetapi naik kelas menjadi pelaku usaha yang menguasai rantai pasok.
Kepala Disbunak Kolaka Utara, H. Kamal Mustafa, S.Pi., M.M menegaskan, pengembangan kopi daerah membutuhkan pendekatan terintegrasi lintas sektor. Menurutnya, sinergi antarorganisasi perangkat daerah menjadi kunci untuk memastikan proses produksi hingga pemasaran berjalan efektif.
“Kegiatannya memang diinisiasi oleh dinas lain, tetapi kami dilibatkan agar ada sinergi dalam pengembangan sektor perkebunan, khususnya kopi,” ujarnya via WhatsApp, Jum’at (1/5/2026).
Ia menekankan, fondasi utama peningkatan daya saing kopi terletak pada praktik budidaya yang konsisten dan berstandar. Petani didorong menerapkan pemeliharaan tanaman secara optimal, mulai dari pemupukan, pemangkasan, hingga pengendalian hama dan penyakit.
“Kalau budidayanya benar, hasilnya juga akan optimal. Ini kunci utama sebelum bicara pasar,” tegasnya.
Namun, Kamal mengingatkan, kualitas kopi tidak hanya ditentukan di tingkat kebun. Tahapan pascapanen justru menjadi faktor krusial dalam menentukan mutu akhir produk.
“Proses pascapanen harus sesuai prosedur. Mulai dari panen, pengolahan, hingga pengeringan, semua berpengaruh besar terhadap kualitas biji kopi,” jelasnya.
Untuk memperkuat posisi petani, Disbunak juga mendorong pembentukan dan penguatan kelompok tani. Melalui kelembagaan yang solid, petani dinilai lebih mudah mengakses pembinaan, permodalan, hingga pasar.
“Kalau petani berjalan sendiri-sendiri, sulit berkembang. Dengan kelompok, pengelolaan bisa lebih terarah, termasuk masuk ke tahap hilirisasi agar nilai jualnya meningkat,” ungkap Kamal.
Dalam skema hilirisasi, petani tidak lagi diarahkan menjual kopi dalam bentuk biji mentah, melainkan didorong mengolahnya menjadi produk bernilai tambah, seperti kopi sangrai hingga siap konsumsi.
Langkah konkret hilirisasi itu terlihat dalam kegiatan pelatihan roasting kopi yang digelar Dinas Perindustrian Kolaka Utara di Gedung Pertemuan Desa Bangsala, Kecamatan Porehu, Kamis (30/4/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan empat organisasi perangkat daerah, termasuk Disbunnak, serta dihadiri para kepala desa se-Kecamatan Porehu dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kolaka Utara.
Kolaborasi lintas sektor dan keterlibatan pelaku usaha dinilai menjadi strategi penting dalam membuka akses pasar yang lebih luas.
“Melalui kerja sama dengan pelaku usaha dan stakeholder, pemasaran kopi Kolaka Utara bisa lebih maksimal dan menjangkau pasar yang lebih luas,” tambahnya.
Dengan strategi terintegrasi dari hulu ke hilir, Pemkab Kolaka Utara optimistis kopi lokal tak hanya unggul dari sisi produksi, tetapi juga mampu bersaing di pasar regional hingga nasional.
Penulis : Ris








Komentar