Enam Pengidap HIV/AIDS Meninggal di Kolaka Utara dalam Dua Tahun

Regional608 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Enam orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, meninggal dalam dua tahun terakhir. Empat kematian terjadi pada 2025 dan dua lainnya tercatat sepanjang 2026.

Angka kematian itu menjadi salah satu indikator serius dalam penanggulangan HIV/AIDS di daerah. Namun, berkurangnya jumlah orang yang hidup dengan HIV akibat kematian tidak dapat dibaca sebagai penurunan epidemi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kolaka Utara, Irham, S.KM., M.Kes., mengatakan angka kematian perlu dibaca bersama dengan temuan kasus baru dan pola deteksi HIV di masyarakat.

“Kalau jumlahnya berkurang karena meninggal, itu bukan berarti kasusnya turun. Datanya tetap ada sebab itu yang menjadi acuan kami melihat tren perkembangan tiap tahunnya,” kata Irham, Senin, 24 Agustus 2026.

Menurut Irham, HIV memiliki karakteristik infeksi yang memungkinkan virus bertahan dalam tubuh dalam waktu panjang tanpa menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Seseorang yang terinfeksi dapat tetap tampak sehat dan menjalankan aktivitas sehari-hari sebelum kondisi klinisnya memburuk.

“Kalau daya tahan tubuh bagus, tidak menutup kemungkinan tujuh sampai sepuluh tahun baru bisa muncul,” ujar dia.

Fase tanpa gejala tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pengendalian HIV. Infeksi yang tidak terdeteksi membuat seseorang berpotensi terlambat memperoleh pengobatan dan layanan kesehatan yang sesuai.

Ketika sistem kekebalan tubuh mengalami penurunan, berbagai infeksi dapat muncul. Keluhan seperti tuberkulosis, diare, atau demam berkepanjangan dapat menjadi alasan tenaga kesehatan mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk skrining HIV sesuai indikasi klinis.

Irham mengatakan masyarakat tidak selalu dapat mengenali HIV hanya berdasarkan kondisi fisik seseorang. Karena itu, pemeriksaan menjadi penting ketika terdapat indikasi atau faktor risiko yang memerlukan penelusuran lebih lanjut.

“Kadang orang datang karena TB, diare, demam berkepanjangan. Bagi masyarakat mungkin dianggap penyakit biasa, tetapi dari sisi tenaga kesehatan itu bisa menjadi petunjuk untuk melakukan skrining,” kata Irham.

Dinas Kesehatan Kolaka Utara mencatat empat kematian terkait HIV/AIDS pada 2025. Jumlah itu bertambah dua kasus pada 2026 hingga periode pendataan.

Dengan demikian, sedikitnya enam orang dengan HIV/AIDS meninggal dalam kurun dua tahun terakhir.

Irham mengatakan HIV sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Namun, terapi antiretroviral (ARV) memungkinkan orang dengan HIV mempertahankan kondisi kesehatan dan menjalani kehidupan secara lebih baik apabila pengobatan dilakukan secara rutin.

ARV bekerja dengan menekan jumlah virus HIV dalam tubuh sehingga sistem kekebalan dapat dipertahankan. Kepatuhan terhadap terapi menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah perkembangan infeksi menuju kondisi yang lebih berat.

“Kalau sudah diketahui lebih awal, kita bisa segera melakukan penanganan dan memberikan ARV. Jangan sampai pasien datang ketika kondisinya sudah berat,” ujar Irham.

Di tengah catatan kematian tersebut, kasus baru HIV masih ditemukan di Kolaka Utara.

Dinas Kesehatan mencatat 10 kasus baru HIV sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Salah satu kasus tersebut merupakan perempuan.

Pada 2025, jumlah kasus yang tercatat mencapai 21 kasus, terdiri atas 19 laki-laki dan dua perempuan.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan HIV/AIDS tidak berhenti pada angka kematian. Kasus baru yang terus ditemukan memperlihatkan masih adanya transmisi dan kelompok masyarakat yang belum terjangkau secara optimal oleh upaya deteksi dini.

Bagi pemerintah daerah, tantangan pengendalian HIV bukan semata mengobati orang yang telah terdiagnosis. Pencegahan, pemeriksaan dini, keberlanjutan terapi, serta pengurangan stigma menjadi bagian dari mata rantai yang menentukan keberhasilan pengendalian epidemi.

Semakin cepat infeksi diketahui, semakin cepat pula pengobatan dapat dimulai. Dengan terapi yang teratur, jumlah virus dapat ditekan dan risiko berkembangnya penyakit ke tahap yang lebih berat dapat dikurangi.

Enam kematian dalam dua tahun bukan sekadar angka statistik. Angka tersebut menjadi penanda bahwa HIV/AIDS masih merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan respons berkelanjutan dari penemuan kasus, pengobatan, pencegahan penularan, hingga edukasi publik.

Penulis: Ris