Mengenal Ikan Mola-mola, Satwa Purba Raksasa yang Dilindungi Pemerintah 

Ragam51 Dilihat

“Ikan mola-mola termasuk dalam kategori satwa laut yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Selain karena statusnya yang langka, ikan ini juga memiliki berbagai keunikan yang membuatnya berbeda dari jenis ikan pada umumnya”

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Ikan mola-mola atau yang dikenal sebagai ikan matahari merupakan salah satu spesies laut purba yang masih bertahan hidup hingga saat ini. Keberadaannya di perairan Indonesia, kerap menarik perhatian karena bentuknya yang unik serta ukurannya yang tidak biasa.

Dilansir dari Detik.com, Sabtu (28/3/2026) ikan mola-mola termasuk dalam kategori satwa laut yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Selain karena statusnya yang langka, ikan ini juga memiliki berbagai keunikan yang membuatnya berbeda dari jenis ikan pada umumnya.

Secara etimologi, nama “mola” berasal dari bahasa Latin yang berarti batu giling. Nama tersebut merujuk pada bentuk tubuh ikan ini yang pipih, membulat, dan tampak seperti lempengan besar.

Bahkan di beberapa negara, ikan ini memiliki julukan yang cukup unik. Dalam bahasa Jerman disebut Schwimmender Kopf atau “kepala berenang”, sementara dalam bahasa Polandia dikenal sebagai Samogłów yang berarti “hanya kepala”, karena bentuk tubuhnya yang seolah tidak memiliki bagian ekor yang jelas.

Dari segi fisik, ikan mola-mola tergolong sebagai ikan bertubuh besar. Seekor mola-mola dewasa rata-rata memiliki berat mencapai 1.000 kilogram dengan panjang tubuh sekitar 2,8 meter. Bentuk tubuhnya yang menyerupai kepala dengan bagian belakang terpotong membuat ikan ini mudah dikenali.

Berbeda dengan ikan pada umumnya, mola-mola tidak memiliki sirip ekor (caudal fin). Sebagai gantinya, ikan ini memiliki struktur unik yang disebut clavus, yaitu gabungan antara sirip bagian atas (dorsal) dan sirip bawah (ventral). Struktur ini membentuk bagian belakang tubuh yang melebar dan berfungsi sebagai pengganti ekor.

Keunikan lainnya terletak pada kulitnya. Ikan mola-mola tidak memiliki sisik, melainkan kulit tebal dan licin yang menyerupai lapisan cangkang dengan ketebalan mencapai sekitar 7,5 sentimeter. Bahkan, sejumlah penelitian menyebutkan kulit ikan ini sangat kuat hingga sulit ditembus.

Meski memiliki ukuran besar, ikan mola-mola dikenal tidak berbahaya bagi manusia. Namun, karena pergerakannya yang sangat lambat, ikan ini tidak mampu menghindari kapal yang melintas. Dalam beberapa kasus, tabrakan antara mola-mola dan kapal bahkan dilaporkan dapat menyebabkan kerusakan pada kapal.

Dari sisi perilaku, ikan mola-mola dikenal sebagai perenang yang lamban. Bahkan, sebagian ahli menggolongkannya mendekati plankton karena pergerakannya yang cenderung mengikuti arus laut dan sulit melawan arus tersebut. Ikan ini biasanya berenang dengan gerakan sirip atas dan bawah secara bersamaan.

Untuk habitatnya, mola-mola umumnya hidup di perairan laut dalam hingga kedalaman sekitar 600 meter. Spesies ini tersebar di berbagai perairan tropis dan subtropis di dunia, termasuk Indonesia, Australia, hingga wilayah perairan beriklim sedang lainnya.

Meski hidup di laut dalam, ikan ini sesekali muncul ke permukaan. Kemunculan tersebut biasanya berkaitan dengan kebiasaannya mencari makan sekaligus menghangatkan tubuh dengan sinar matahari. Ubur-ubur menjadi salah satu makanan utama ikan mola-mola, sehingga mereka sering berada di wilayah yang banyak terdapat ubur-ubur.

Para ahli juga menjelaskan ikan mola-mola memiliki kebiasaan “berjemur” di permukaan laut. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan suhu tubuh setelah berada di perairan dingin di kedalaman laut. Kebiasaan inilah yang kemudian membuat ikan ini dijuluki sebagai ikan matahari.

Keberadaan ikan mola-mola menjadi salah satu bukti kekayaan biodiversitas laut Indonesia yang sangat tinggi. Oleh karena itu, perlindungan terhadap spesies ini menjadi penting agar keberadaannya tetap terjaga dan tidak terancam punah akibat aktivitas manusia.

Penulis : Ris

Komentar