Sarung “Kramat” Tradisi Unik Kasat Narkoba Polres Kolaka Utara dalam Setiap Penangkapan

Ragam277 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Di balik operasi pemberantasan narkotika yang tegas, terselip cerita tak biasa dari Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Kolaka Utara, IPTU Badmar Ricky P., S.H kian dikenal. Dalam setiap penangkapan, ia kerap mengenakan selembar sarung berwarna hitam yang oleh rekan dan masyarakat dijuluki sebagai “sarung keramat”.

Kebiasaan itu bermula secara tak sengaja pada 2025, saat dirinya pertama kali menjabat. Ketika itu, ia mengenakan sarung tersebut dalam operasi penangkapan seorang bandar jaringan internasional di wilayah Lapai. Operasi itu berhasil, dan sejak saat itu sarung tersebut terus dikenakan dalam berbagai pengungkapan kasus berikutnya.

“Awalnya hanya kebetulan saya pakai saat penangkapan pertama, ternyata berhasil. Dari situ saya coba lagi di operasi berikutnya dan hasilnya juga sama,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Seiring waktu, sarung itu tak lagi sekadar kebiasaan, melainkan menjadi bagian dari strategi di lapangan. Warnanya yang gelap dinilai efektif untuk menunjang penyamaran, baik siang maupun malam hari. Dalam kondisi minim cahaya, sarung tersebut membantu dirinya tidak mudah dikenali saat membuntuti target.

Tak hanya itu, sarung juga memiliki fungsi praktis selama operasi. Dia bisa digunakan untuk menutup tubuh saat mengintai, dipakai beribadah, hingga menjadi alas beristirahat di sela tugas. Fleksibilitas ini, menurutnya, memberikan kenyamanan sekaligus keuntungan taktis.

“Di lapangan, sarung itu multifungsi. Bisa untuk salat, bisa untuk menyamarkan diri, bahkan untuk beristirahat. Pergerakan juga lebih leluasa,” katanya.

Lebih jauh, penggunaan sarung juga menjadi bagian dari taktik mengelabui target. Penampilannya yang sederhana kerap membuat dirinya dikira hanya beraktivitas di sekitar masjid, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan dari pelaku maupun jaringan pengintai.

Ia mengaku sempat mencoba menggunakan sarung lain, namun hasilnya tidak seefektif sebelumnya. Sejak itu, ia memutuskan untuk tetap menggunakan sarung yang sama setiap kali melakukan penyelidikan. Konsistensi tersebut kemudian memunculkan julukan “sarung keramat” di kalangan anggota maupun masyarakat.

Meski demikian, ia menegaskan keberhasilan pengungkapan kasus tidak semata ditentukan oleh atribut yang dikenakan, melainkan hasil dari kerja keras, ketelitian, serta strategi yang matang di lapangan.

“Ini lebih kepada bagian dari trik dan kebiasaan saja. Yang utama tetap kerja tim, informasi masyarakat, dan strategi,” ujarnya.

Badmar juga menekankan, capaian pengungkapan jaringan narkotika tidak lepas dari arahan Kapolres Kolaka Utara, AKBP Ritman Todoang, serta kerja keras dan soliditas seluruh personel Satresnarkoba.

“Keberhasilan ini adalah hasil dari arahan pimpinan dan kerja sama tim di lapangan,” katanya.

Di luar cerita unik tersebut, komitmen Polres Kolaka Utara dalam memberantas peredaran narkotika tetap menjadi fokus utama. Pendekatan profesional yang dipadukan dengan strategi adaptif terus dikedepankan untuk memutus mata rantai peredaran narkoba di wilayah tersebut.

Tradisi “sarung keramat” pun menjadi warna tersendiri di balik tugas berat aparat penegak hukum sebuah sisi personal yang lahir dari pengalaman, lalu berkembang menjadi bagian dari strategi di lapangan.

Hingga dirinya menjabat sebagai Kasat Narkoba pada 2025. Satreskoba Polres Kolaka Utara telah berhasil mengamankan 33 orang tersangka, sebagian besar ditangkap pada hari Jumat, dengan sarung yang sama selalu dikenakan dalam setiap operasi.

Penulis : Ris

Komentar