KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Potensi hilirisasi komoditas kakao dan kelapa di Kabupaten Kolaka Utara mulai menarik perhatian pelaku industri global.
Dalam forum Kolaka Utara Industry, Trade & Investment Forum 2026 yang berlangsung di Surabaya, peluang pengembangan industri agribisnis berbasis nilai tambah antara Kolaka Utara dan Jerman menjadi salah satu isu strategis yang mencuat.
Managing Director Wisma Jerman, Mike Neuber, menilai Kolaka Utara memiliki kapasitas besar untuk bertransformasi dari daerah pemasok bahan mentah menjadi kawasan industri pengolahan berbasis komoditas unggulan.
Menurutnya, sektor kakao dan kelapa memiliki prospek ekspor yang sangat kompetitif, terutama untuk memenuhi permintaan pasar Eropa yang semakin mengutamakan produk berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi.
“North Kolaka has strong potential to move from raw commodity exports into value-added industries that can compete in the European market,”
“Kolaka Utara memiliki potensi besar untuk bertransformasi dari ekspor komoditas mentah menuju industri bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar Eropa,” ujar Mike Neuber dalam pemaparannya bertajuk Industrial Excellence in North Kolaka: Cooperation Potential between North Kolaka and Germany for Value-Added Agriculture.
(Keunggulan Industri di Kolaka Utara: Potensi Kerja Sama antara Kolaka Utara dan Jerman untuk Pengembangan Pertanian Bernilai Tambah)
Ia menjelaskan, paradigma perdagangan global saat ini tidak lagi bertumpu pada ekspor komoditas primer, melainkan pada kemampuan daerah menghasilkan produk turunan dengan standar industri internasional.
Dalam konteks tersebut, Jerman disebut membutuhkan pasokan bahan baku berkualitas tinggi yang dapat diintegrasikan dengan teknologi manufaktur modern dan sistem rantai pasok berkelanjutan.
Mike menyoroti potensi kakao Kolaka Utara yang mencapai sekitar 75 ribu hektare. Namun, baru sebagian lahan yang dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung industri pengolahan.
Menurutnya, hilirisasi kakao melalui produksi cocoa liquor, premium cocoa butter, hingga produk cokelat olahan dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas secara signifikan sekaligus memperkuat struktur industri lokal.
“Processing cocoa into cocoa liquor or premium cocoa butter can dramatically increase product value and strengthen local industry,”
“Pengolahan kakao menjadi cocoa liquor atau premium cocoa butter dapat meningkatkan nilai produk secara signifikan sekaligus memperkuat industri lokal,” katanya.
Selain kakao, komoditas kelapa juga dinilai memiliki peluang besar di pasar Eropa. Produk turunan seperti Virgin Coconut Oil (VCO), karbon aktif berbahan tempurung kelapa, hingga produk minuman berbasis air kelapa premium disebut mengalami tren permintaan yang terus meningkat, terutama pada pasar produk organik dan ramah lingkungan.
Dalam paparannya, Mike turut memperkenalkan konsep pembangunan pabrik modular berkapasitas fleksibel yang memungkinkan koperasi dan pelaku usaha lokal mengembangkan industri pengolahan tanpa ketergantungan pada investasi skala besar.
Model industri tersebut dinilai lebih adaptif terhadap karakteristik daerah penghasil komoditas di Indonesia.
Tak hanya itu, penerapan teknologi pertanian presisi berbasis Internet of Things (IoT) dan GPS juga disebut dapat meningkatkan efisiensi produksi serta menekan kehilangan hasil pascapanen hingga 30 persen.
Teknologi tersebut saat ini menjadi salah satu kekuatan utama industri pengolahan pangan Jerman yang menguasai lebih dari seperempat pasar teknologi pangan global.
Mike juga menekankan pentingnya penerapan sistem digital traceability (keterlacakan) berbasis blockchain guna memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR), regulasi Uni Eropa yang kini menjadi prasyarat utama bagi produk pertanian untuk memasuki pasar Eropa.
“European buyers are increasingly demanding sustainable and traceable agricultural products,”
“Pembeli di Eropa kini semakin menuntut produk pertanian yang berkelanjutan dan memiliki sistem keterlacakan yang jelas,” ujarnya.
Menurutnya, peluang pasar di Jerman sangat terbuka mengingat negara tersebut memiliki tingkat konsumsi cokelat sekitar sembilan kilogram per kapita per tahun dan menjadi salah satu pasar produk organik terbesar di dunia.
Produk kakao dan kelapa asal Kolaka Utara bahkan dinilai berpotensi memperoleh peningkatan harga jual hingga 30 persen apabila mampu memenuhi standar sertifikasi organik internasional.
Dalam forum tersebut, sejumlah institusi dan perusahaan asal Jerman disebut berpotensi menjadi mitra strategis pengembangan industri di Kolaka Utara, di antaranya Buhler Group, GEA Group, Norevo, serta Fraunhofer Institute yang bergerak di bidang teknologi pengolahan, distribusi bahan baku industri, dan riset inovasi.
Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara menilai forum investasi tersebut menjadi momentum penting untuk memperluas akses daerah terhadap teknologi, investasi, dan pasar internasional.
Hilirisasi kakao dan kelapa dipandang sebagai strategi transformasi ekonomi yang tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas daerah, tetapi juga memperkuat daya saing industri lokal di tingkat global.
Penulis : Ris








Komentar