Kemenperin Dorong Kolaka Utara Jadi Episentrum Hilirisasi Kakao di Sulawesi

Ekobis39 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Pemerintah pusat mulai melirik Kabupaten Kolaka Utara sebagai salah satu calon pusat hilirisasi kakao di kawasan timur Indonesia. Potensi perkebunan yang besar dinilai menjadi modal strategis untuk membangun industri pengolahan berbasis ekspor dan memperkuat rantai manufaktur nasional.

Dorongan tersebut mengemuka dalam Kolaka Utara Industry, Trade & Investment Forum 2026 yang berlangsung di Surabaya, Senin (11/5/2026). Dalam forum itu, Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI menilai Kolaka Utara memiliki peluang besar masuk dalam peta pengembangan industri agro nasional berbasis nilai tambah.

Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian RI, Putu Juli Ardika, yang diwakili Yuli Astuti, menyatakan sektor agro hingga kini masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional. Pada 2025, industri agro tercatat tumbuh 4,95 persen dengan kontribusi mencapai 52,09 persen terhadap industri pengolahan nonmigas nasional.

Tak hanya itu, sektor tersebut juga mencatat surplus neraca dagang sebesar USD 9,84 miliar pada Januari-Februari 2026, menyerap sekitar 10 juta tenaga kerja dan menarik investasi hingga Rp40,08 triliun pada triwulan pertama tahun ini.

“Industri agro menjadi sektor strategis karena tidak hanya memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga membuka ruang besar bagi daerah untuk tumbuh melalui hilirisasi komoditas unggulan,” ujar Yuli Astuti.

Menurut dia, Kolaka Utara memiliki posisi strategis karena ditopang potensi perkebunan kakao yang sangat besar. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan luas kebun kakao di daerah tersebut mencapai sekitar 78.966 hektare dengan produksi mencapai 58.858 ton per tahun.

Perkebunan kakao tersebar hampir di seluruh kecamatan, dengan konsentrasi terbesar berada di wilayah Ngapa, Kodeoha dan Pakue. Selain kakao, Kolaka Utara juga memiliki potensi kelapa seluas 3.906 hektare dengan produksi sekitar 4.545 ton per tahun.

Sementara itu, komoditas kopi mulai menunjukkan tren pengembangan baru. Luas perkebunan kopi tercatat sekitar 387 hektare dengan produksi mencapai 182 ton yang tersebar di wilayah Pakue dan Porehu.

Pemerintah menilai selama ini sebagian besar komoditas perkebunan daerah masih dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai ekonomi yang diperoleh relatif terbatas.

Karena itu, strategi hilirisasi dipandang penting agar daerah penghasil bahan baku dapat masuk ke industri pengolahan dan pasar ekspor bernilai tinggi.

“Transformasi industri harus diarahkan pada peningkatan nilai tambah. Daerah penghasil bahan baku seperti Kolaka Utara memiliki peluang besar untuk masuk ke rantai industri pengolahan dan pasar ekspor global,” katanya.

Dalam paparannya, pemerintah pusat juga membeberkan arah baru kebijakan industri nasional melalui Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN).

Fokus kebijakan tersebut meliputi penguatan rantai pasok bahan baku, pemanfaatan teknologi industri 4.0, restrukturisasi mesin produksi, hingga penerapan industri hijau yang lebih ramah lingkungan.

Selain penguatan teknologi, pemerintah juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia industri melalui berbagai program seperti Cocoa Doctor, pendidikan vokasi berbasis industri dan pelatihan transformasi industri bagi pelaku usaha.

Di sektor perdagangan, pemerintah menargetkan perluasan pasar ekspor melalui diversifikasi negara tujuan dan penguatan promosi produk unggulan Indonesia di pasar global.

Untuk menarik investasi, pemerintah turut menawarkan berbagai insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, hingga fasilitas harga gas bumi tertentu bagi sektor industri prioritas.

Kementerian Perindustrian juga mematok target ambisius hilirisasi nasional hingga 2029. Ekspor kakao ditargetkan mencapai USD 3,57 miliar, ekspor kelapa USD 3,50 miliar dan ekspor kopi sebesar USD 818,5 juta.

Pemerintah Kabupaten Kolaka Utara menilai forum investasi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat konektivitas antara pemerintah daerah, investor dan pemerintah pusat dalam membangun industri berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan.

Di tengah tren global yang mulai bergeser ke industri pangan dan produk berbasis keberlanjutan, kakao Kolaka Utara kini tak lagi sekadar komoditas perkebunan. Daerah ini mulai diproyeksikan menjadi simpul baru hilirisasi agroindustri di Sulawesi.

Penulis : Ris

Komentar