KONAWE SELATAN, REPUBLIX.ID – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memuji kualitas pembibitan kelapa dan kakao yang dikembangkan di Sulawesi Tenggara. Bahkan, ia menyebut sistem pembibitan yang berada di Desa Lamomea, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan itu layak menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.
Penilaian tersebut disampaikan Mentan Amran saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pembibitan kelapa dan kakao, Sabtu (6/6/2026).
“Ini contoh bibit kelapa yang bagus, ini harus dicontoh seluruh Indonesia,” kata Amran saat meninjau area pembibitan.
Menurut Amran, jutaan bibit yang dipersiapkan di Sulawesi Tenggara merupakan bagian dari program besar pengembangan perkebunan nasional yang diarahkan untuk mendukung hilirisasi komoditas strategis. Pemerintah saat ini tengah mengembangkan sekitar 870 ribu hektare tanaman perkebunan di berbagai daerah.
Program tersebut mencakup pengembangan komoditas kakao, kelapa, tebu, pala, mete, kopi, dan kemiri sebagai upaya memperkuat pasokan bahan baku industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Sekarang ini arahan Bapak Presiden Prabowo, kita kembangkan kurang lebih 870 ribu hektare tanaman kakao, kelapa, tebu, pala, dan mete di seluruh Indonesia. Kita kembangkan dan itu dihibahkan untuk petani kita. Ini luar biasa. Ini persiapan untuk bahan baku, di saat bersamaan kita lakukan hilirisasi kelapa, kakao, mete, dan seterusnya,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, pemerintah menyiapkan sekitar 280 juta batang bibit kakao dan kelapa secara nasional. Khusus untuk Sulawesi Tenggara, sebanyak 38 juta benih disiapkan untuk didistribusikan kepada petani.
Amran menegaskan seluruh bantuan diberikan secara gratis, mulai dari penyediaan bibit unggul, pengolahan lahan hingga proses penanaman.
“Gratis, sampai penanaman ini gratis. Mulai bibitnya gratis, tanamnya gratis, pengolahannya gratis,” tegasnya.
Ia menilai pengembangan perkebunan berbasis bibit unggul menjadi fondasi penting dalam memperkuat program hilirisasi nasional. Karena itu, bantuan yang bersumber dari anggaran negara harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh petani.
Selain meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat, program ini juga diproyeksikan mampu membuka jutaan lapangan kerja baru dalam beberapa tahun ke depan.
“Kita harapkan menciptakan lapangan kerja ke depan jutaan. Sampai tiga tahun ke depan kita target minimal tiga juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen. Artinya, tenaga kerja akan terus bekerja hingga puluhan tahun karena tanaman yang dikembangkan bersifat produktif dan berkelanjutan,” ujar Amran.
Diketahui, Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,5 triliun untuk program pengembangan tujuh komoditas strategis nasional pada periode 2025-2027.
Program tersebut ditargetkan mencakup pengembangan 870 ribu hektare kebun rakyat guna memperkuat hilirisasi, meningkatkan nilai tambah komoditas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor perkebunan.
Penulis : Ris









Komentar