Banjir dan Longsor Kepung Sulawesi, Dua Warga Bone Meninggal

Nasional64 Dilihat

JAKARTA, REPUBLIX.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rangkaian bencana hidrometeorologi kembali melanda sejumlah wilayah di Pulau Sulawesi dalam periode pemantauan 8 Mei 2026 pukul 07.00 WIB hingga 9 Mei 2026 pukul 07.00 WIB. Banjir dan tanah longsor mendominasi kejadian, dipicu hujan deras dan angin kencang yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Wilayah terdampak tersebar di Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tenggara. Kabupaten Bone menjadi daerah dengan dampak paling fatal setelah dua warga dilaporkan meninggal dunia akibat banjir.

Di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, banjir merendam empat desa di Kecamatan Larompong dan Larompong Selatan pada Jumat (8/5). Desa Rante Belu, Riwang, Temboe, dan Sampano terdampak setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu dan menyebabkan debit sungai meningkat drastis.

BPBD Kabupaten Luwu mencatat sedikitnya 95 rumah terendam, 10 hektare sawah siap panen terdampak, serta akses jalan Trans Sulawesi sempat tergenang. Hingga Sabtu (9/5) pagi, air dilaporkan belum sepenuhnya surut dan hujan masih mengguyur wilayah terdampak.

Bencana serupa juga meluas di Kabupaten Bone. Hujan yang berlangsung selama dua hari sejak 7 Mei menyebabkan banjir di lima kecamatan, yakni Tanete Riattang, Tanete Riattang Timur, Sibulue, Awangpone, dan Barebbo.

Sejumlah kelurahan dan desa seperti Panyula, Toro, Masumpu, Bajoe, Lonrae, Sumpang Minangae, Ajangpulu, Matuju, hingga Kading terdampak luapan air.

BPBD Kabupaten Bone melaporkan dua warga meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Tim gabungan masih melakukan pendataan dan evakuasi menggunakan perahu karet. Sebagian wilayah mulai surut, namun banjir masih bertahan di Kelurahan Panyula akibat pasang air laut.

Sementara di Sulawesi Tenggara, banjir juga melanda Kabupaten Buton Utara. Empat desa terdampak, yakni Wacu Laea, Lamoahi, Wantulasi, dan Lapandewa.

Sebanyak 120 rumah dan 632 jiwa terdampak dalam kejadian tersebut. Selain itu, satu unit jembatan dilaporkan putus akibat derasnya arus banjir. BPBD bersama tim gabungan telah melakukan pembersihan rumah warga dan peninjauan lapangan. Kondisi banjir dilaporkan mulai surut pada Sabtu pagi.

Di Kabupaten Kolaka, hujan deras memicu banjir dan tanah longsor di empat kecamatan, masing-masing Latambaga, Kolaka, Pomalaa, dan Samaturu. Tanah longsor juga terjadi di Kelurahan Laloeha, Kecamatan Kolaka.

Data BPBD Kabupaten Kolaka mencatat sebanyak 587 rumah terdampak banjir, termasuk 10 fasilitas pendidikan, 23 hektare sawah, 10,5 hektare tambak, dan delapan hektare kebun. Selain itu, satu unit rumah terdampak longsor.

Tim gabungan terus melakukan penanganan darurat, termasuk pengerahan pompa air dan pembersihan rumah warga terdampak.

Di tengah meningkatnya intensitas bencana, BNPB mengingatkan potensi cuaca ekstrem masih berlanjut. Berdasarkan prakiraan BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang pada 9-11 Mei 2026.

BNPB meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, termasuk memastikan kesiapan personel, peralatan, dan pemantauan wilayah rawan secara berkala.

Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor juga diimbau segera melakukan evakuasi apabila hujan deras berlangsung lebih dari satu jam, terutama saat jarak pandang mulai terbatas dan debit sungai meningkat.

Penulis: Ris

Komentar