BONE, REPUBLIX.ID – Pemerintah menggeber pembangunan ekosistem peternakan terintegrasi di lima wilayah sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp17 triliun untuk membangun ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir.
Tahap awal difokuskan pada lima kawasan di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo.
Untuk tahap awal tersebut, pemerintah telah mengalokasikan sekitar Rp2,2 triliun. Pembangunan ditargetkan rampung pada 2027.
“Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” kata Amran saat kunjungan kerja di Bone, Sulawesi Selatan, Jumat, 25 September 2026.
Amran mengatakan dukungan anggaran dan administrasi untuk lima kawasan tersebut telah diselesaikan. Karena itu, pembangunan di lapangan diminta dipacu agar target penyelesaian dapat tercapai.
“Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu,” ujarnya.
Konsep yang dibangun bukan sekadar sentra produksi ternak. Pemerintah merancang kawasan tersebut sebagai ekosistem peternakan terpadu, mulai dari produksi jagung sebagai bahan baku pakan, pabrik pakan, pembibitan ayam atau DOC, budidaya, hingga produksi ayam, telur, dan susu.
Rantai produksi itu juga disiapkan untuk mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah berharap produksi dalam negeri dapat menjadi pemasok utama kebutuhan protein hewani bagi masyarakat.
“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu,” kata Amran.
Salah satu kunci ekosistem tersebut adalah ketersediaan pakan. Pemerintah akan mendekatkan industri pakan dengan sentra produksi jagung agar biaya distribusi dapat ditekan.
Di Bone dan wilayah sekitarnya, jagung dari petani akan menjadi salah satu sumber bahan baku pakan.
“Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” ujar Amran.
Menurut dia, pola tersebut membuat rantai pasok lebih pendek. Jagung tidak perlu dikirim ke daerah lain untuk diproses menjadi pakan, kemudian didistribusikan kembali ke sentra peternakan.
“Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” katanya.
Pemerintah juga menyiapkan fasilitas pembibitan atau DOC dalam kawasan tersebut. Dengan begitu, peternak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan bibit dari wilayah lain.
“Tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini. Lengkap,” ujar Amran.
Selain ayam dan telur, kawasan peternakan juga diarahkan untuk mengembangkan sapi perah. Produksi susu dinilai penting untuk memperkuat pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak.
“Peternakan sapi itu sapi perah, susu. Kan butuh susu anak-anak supaya tinggi besar nanti,” katanya.
Di Sulawesi Selatan, kawasan pengembangan peternakan tersebut berada di Bone dengan luas sekitar 150 hektare.
Pemerintah berharap kawasan itu tidak hanya meningkatkan produksi peternakan, tetapi juga menciptakan mata rantai ekonomi baru bagi masyarakat sekitar. Mulai dari petani jagung, pekerja industri pakan, peternak, hingga sektor distribusi dan pengolahan.
Amran mengatakan pembangunan ekosistem peternakan juga merupakan bagian dari investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.
“Minum susu, telur, ayam dan seterusnya. Itu mimpi Bapak Presiden. Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas,” tuturnya.
Dengan konsep hulu-hilir, pemerintah menargetkan ekosistem tersebut mampu memperkuat pasar jagung petani sekaligus meningkatkan produksi ayam, telur, dan susu di dalam negeri.
“Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja,” kata Amran.
Penulis: Ris








