PMAAS Mulai Diuji di Kolaka Utara Target Produksi Padi Didorong Tembus 10 Ton per Hektare

Berita Tani266 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Upaya mendongkrak produktivitas padi di Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, mulai memasuki pola pertanian modern.

Pemerintah daerah menguji penerapan Pertanian Modern Abad Agrikultur Sistem (PMAAS) di areal persawahan Desa Pundoho, Kecamatan Pakue Utara, Sabtu, 3 Oktober 2026.

Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan hasil panen sekaligus mendukung target perluasan tanam padi Sulawesi Tenggara yang mencapai 17.533 hektare.

PMAAS mengubah pola budidaya padi dengan mengatur penggunaan benih, pupuk, air hingga pengelolaan tanaman berdasarkan kondisi hamparan. Penanaman juga didorong lebih padat dan dilakukan serentak sehingga pengelolaan lahan dapat dilakukan secara terpadu.

Pola tersebut membuka ruang pemanfaatan teknologi pertanian, termasuk penggunaan drone untuk penyemprotan tanaman.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distanhorti) Kolaka Utara, Nusba Nuhung, mengatakan penerapan PMAAS di Pundoho masih dalam tahap uji coba. Ia berharap pola pertanian modern itu mampu memberikan hasil yang lebih tinggi bagi petani.

“Program peningkatan produksi padi melalui pertanian modern. Intinya program PMAAS. Yang kita ketahui melalui berbagai informasi, program ini bisa mencapai sampai 12 ton. Alhamdulillah pada hari ini kita laksanakan sebagai uji coba di Desa Pundoho. Mudah-mudahan hasilnya memuaskan buat petani kita,” katanya.

Menurut Nusba, Kolaka Utara memiliki luas baku sawah sekitar 1.482,11 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 1.000 hektare masih produktif, sementara 400 hingga 500 hektare lainnya belum dimanfaatkan secara optimal.

Pemerintah daerah juga telah mengusulkan 1.323,86 hektare sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan atau LP2B.

Di Kecamatan Pakue Utara, luas hamparan persawahan mencapai sekitar 170 hektare yang tersebar di Desa Pundoho, Amowe, Teposua, Mataleuno dan Pakue. Sebanyak 135 hektare di antaranya merupakan sawah irigasi dan 35 hektare sawah tadah hujan.

Adapun lahan yang menjadi lokasi gerakan tanam PMAAS di Desa Pundoho mencapai sekitar 50 hektare.

Namun, penerapan pola baru tersebut masih menghadapi persoalan ketersediaan benih. Kolaka Utara tahun ini memperoleh bantuan benih untuk sekitar 900 hektare dengan alokasi 25 kilogram per hektare.

Sementara kebutuhan benih dalam pola PMAAS diperkirakan mencapai sekitar 100 kilogram per hektare berdasarkan perhitungan penyuluh.

“Kalau kita menggunakan program PMAAS ini, kita masih kurang sampai 75 kilogram. Karena dalam satu hektare estimasi dari teman-teman PPL itu menggunakan satu kuintal, sedangkan bantuan dari kementerian hanya 25 kilogram,” ujar Nusba.

Ia berharap kebutuhan benih untuk penerapan PMAAS mendapat perhatian pemerintah pusat agar program peningkatan produktivitas dapat berjalan maksimal.

Kepala BRMP Sulawesi Tenggara Kamri Alwi mengatakan pemerintah menyiapkan dukungan mulai dari benih, pupuk hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman. Untuk PMAAS, alokasi benih yang disiapkan mencapai 70 kilogram per hektare.

“Untuk PMAAS itu benihnya 70 kilo per hektare. Jadi teman-teman petani nanti akan mendapatkan 70 kilo. Benihnya sudah ada, lagi menunggu uji mutu,” kata Kamri.

Menurut dia, keberhasilan PMAAS tidak hanya ditentukan oleh jumlah benih. Pengaturan pemupukan dan tata kelola air menjadi bagian penting dari sistem tersebut.

Lahan, kata Kamri, tidak harus terus-menerus digenangi air. Pengairan perlu diatur agar kondisi tanah tetap mendukung pertumbuhan akar tanaman.

Ia juga mendorong petani melakukan penanaman secara serentak dalam satu hamparan. Dengan pola tersebut, pengelolaan tanaman menjadi lebih mudah dan teknologi seperti drone dapat dimanfaatkan secara bersama-sama.

“Memang kami berharap hamparan ini seperti ini, jadi tanahnya tanam serentak supaya satu kali penanaman,” ujarnya.

Kamri menyebut hasil uji coba PMAAS di Kolaka Timur menunjukkan potensi produktivitas yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil ubinan yang belum dirilis secara resmi oleh BPS, produksi diperkirakan mencapai sekitar 11 ton per hektare.

Ia optimistis lahan di Pundoho juga mampu menghasilkan produktivitas tinggi karena kondisi tanah dan ketersediaan air dinilai mendukung.

“Tadi saya sudah keliling-keliling lihat kualitas kondisi airnya, lihat keadaan tanahnya. Kalau ini, saya yakin dan percaya bisa sampai 10 ton,” kata Kamri.

Selain benih dan pupuk, dukungan pestisida untuk program tersebut masih dalam proses pengadaan. Pemerintah juga menyiapkan dukungan silika dan dolomit yang akan disalurkan setelah seluruh proses yang diperlukan terpenuhi.

Untuk bantuan alat dan mesin pertanian, BRMP Sulawesi Tenggara berperan melakukan verifikasi terhadap usulan pemerintah daerah. Kamri meminta setiap usulan disusun sesuai mekanisme dan memastikan alat yang telah diterima benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung produktivitas petani.

Ia juga mengingatkan pentingnya kelengkapan data poligon lahan. Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam pengusulan program pertanian agar pemerintah pusat dapat memverifikasi lokasi dan kebutuhan secara lebih akurat.

Sekretaris Daerah Kolaka Utara H. Muhammad Idrus mengatakan berbagai peluang dukungan program pertanian dari pemerintah pusat harus segera ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah.

“Potensi pertanian dan perkebunan masih sangat besar. Tentu kolaborasi, sinergitas, termasuk tadi harapan dukungan ketika memang dibutuhkan ada pembiayaan atau dukungan anggaran yang sifatnya operasional, kami sebenarnya butuh informasi supaya bisa kita tindak lanjuti,” ujar Idrus.

Ia meminta organisasi perangkat daerah terkait bersama penyuluh lebih aktif menghubungkan kebutuhan petani dengan berbagai program pemerintah pusat.

Menurut Idrus, langkah tersebut penting agar peluang dukungan yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sektor pertanian Kolaka Utara.

“Intinya, kami senang melihat kegiatan ini bisa berjalan di tengah kondisi alam kita atau hampir menyeluruh kondisi kemarau yang masih berkepanjangan ini kita bisa melaksanakan kegiatan penanaman padi ini,” katanya.

Gerakan tanam perdana itu dihadiri Sekretaris Daerah Kolaka Utara H. Muhammad Idrus, S.Sos., M.Si Wakil Ketua DPRD Muhammad Syair, Ketua Komisi II DPRD Busra, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusba Nuhung.

Turut hadir Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kamal Mustafa, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Patehuddin, serta Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tenggara Kamri Alwi bersama penyuluh dan petani.

Penulis: Ris