KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Seorang pelaku usaha BRI Link di Kelurahan Lapai, Kecamatan Ngapa, Kabupaten Kolaka Utara, mengaku menjadi korban peredaran uang palsu. Temuan tersebut terungkap setelah karyawannya menemukan kejanggalan pada sejumlah uang yang tersimpan di kas usaha.
Pemilik usaha, Mansur (37), mengatakan uang yang diduga palsu itu pertama kali diketahui saat seorang nasabah melakukan transaksi penarikan tunai pada Senin (1/6/2026) pagi. Saat hendak menyerahkan uang kepada nasabah, karyawan yang bertugas mencurigai kondisi fisik beberapa lembar uang pecahan Rp100 ribu.
“Awalnya ada nasabah yang mau tarik tunai. Ketika uang diberikan, ternyata ada kelainan pada uang tersebut. Karyawan kemudian curiga dan menghubungi saya,” ujar Mansur saat dikonfirmasi, Rabu (3/6/2026).
Saat menerima laporan itu, Mansur mengaku sedang berada di Siwa, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Ia kemudian meminta karyawannya untuk memeriksa seluruh uang tunai yang tersimpan di tempat usahanya.
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan tiga lembar uang pecahan Rp100 ribu yang diduga palsu. Setelah dilakukan pengecekan lebih lanjut, Mansur memastikan ketiga lembar uang tersebut bukan uang asli.
“Ternyata ada tiga lembar. Setelah saya periksa secara teliti, memang benar uang tersebut palsu,” katanya.
Mansur mengaku usahanya telah menggunakan alat penghitung uang yang dilengkapi fitur pendeteksi keaslian uang. Namun, ia tidak mengetahui bagaimana uang palsu tersebut dapat lolos dan masuk ke dalam kas usahanya.
“Ada alat pendeteksi, tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya bisa lolos. Apakah alatnya bermasalah atau bagaimana, saya juga tidak paham,” ujarnya.
Setelah memastikan adanya uang palsu, Mansur memilih mengunggah foto uang tersebut ke media sosial sebagai bentuk peringatan kepada masyarakat. Menurut dia, langkah itu dilakukan agar warga lebih berhati-hati saat menerima uang tunai dalam berbagai transaksi.
“Saya foto dan bagikan di Facebook dengan tujuan mengedukasi serta mengimbau masyarakat, khususnya warga Kelurahan Lapai dan sekitarnya, agar lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi untuk mengantisipasi peredaran uang palsu,” tuturnya.
Ia berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat menerima uang dalam jumlah besar atau ketika melakukan transaksi di lokasi yang ramai. Menurutnya, kehati-hatian menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko kerugian akibat peredaran uang palsu.
Penulis: Astar









Komentar