KENDARI, REPUBLIX.ID – Aktivitas kegempaan di Sulawesi Tenggara masih tergolong aktif sepanjang pekan kedua Juli 2026. Dalam kurun 10-16 Juli 2026, tercatat sebanyak 23 kejadian gempa bumi terjadi di berbagai wilayah di provinsi tersebut.
Dari jumlah itu, dua gempa sempat dirasakan masyarakat di Kabupaten Kolaka Timur, namun tidak menimbulkan kerusakan. Data yang dirilis Stasiun Geofisika Kendari menunjukkan, gempa selama sepekan tersebar di 10 wilayah.
Konawe Selatan menjadi daerah dengan frekuensi gempa terbanyak, yakni tujuh kejadian. Disusul Kolaka Timur lima kejadian, dua di antaranya dirasakan masyarakat.
Selanjutnya, Buton Selatan mencatat tiga kejadian, Konawe dua kejadian, sedangkan Kota Kendari, Buton Utara, Bombana, Kolaka, Konawe Kepulauan, dan Muna masing-masing mengalami satu kejadian gempa.
Dua gempa yang dirasakan masyarakat terjadi di Kolaka Timur pada 10 Juli 2026 dan 13 Juli 2026. Intensitas guncangan berkisar pada skala II Modified Mercalli Intensity (MMI) hingga II–III MMI.
Pada skala tersebut, getaran umumnya hanya dirasakan sebagian orang di dalam rumah, sementara benda-benda ringan dapat bergoyang.
Meski sempat dirasakan warga, hingga akhir periode pemantauan tidak terdapat laporan kerusakan bangunan maupun korban akibat dua kejadian gempa tersebut.
Stasiun Geofisika Kendari mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.
Warga juga diminta terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi gempa bumi dengan memahami langkah-langkah penyelamatan diri apabila terjadi guncangan.
BMKG menegaskan, informasi resmi mengenai aktivitas gempa bumi hanya disampaikan melalui kanal resmi BMKG. Masyarakat diharapkan mengikuti perkembangan informasi dari sumber yang kredibel serta tetap waspada tanpa perlu panik.
Aktivitas kegempaan di Sulawesi Tenggara merupakan bagian dari dinamika tektonik kawasan yang dipengaruhi sejumlah sesar aktif dan interaksi lempeng di wilayah timur Indonesia.
Penulis: Ris









Komentar