JAKARTA, REPUBLIX.ID – Fenomena gempa kembar (doublet earthquake) yang mengguncang Venezuela menjadi salah satu bencana seismik paling merusak dalam sejarah modern negara tersebut.
Dua gempa besar berkekuatan Magnitudo (M) 7,2 dan M7,5 yang terjadi hanya dalam selang waktu 39 detik memicu kerusakan katastropik di sejumlah wilayah, terutama Caracas, La Guaira, dan Yaracuy.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bahwa karakteristik gempa ini tergolong tidak biasa karena dua gempa besar terjadi hampir bersamaan pada sumber yang sama sehingga memperbesar tingkat kerusakan.
“Fenomena ini dikenal sebagai doublet earthquake, yakni dua gempa besar yang terjadi berurutan dalam waktu sangat singkat. Kondisi ini menyebabkan bangunan yang sudah melemah akibat gempa pertama akhirnya runtuh ketika diguncang gempa kedua,” kata Dr. Daryono.
Gempa mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) waktu setempat atau Kamis (25/6/2026) dini hari WIB.
Gempa pertama berkekuatan M7,2 terjadi sekitar pukul 18.04 waktu setempat. Hanya berselang 39 detik, gempa kedua yang lebih kuat dengan magnitudo M7,5 kembali mengguncang wilayah yang sama.
Pusat gempa berada di sekitar San Felipe, Negara Bagian Yaracuy.
Dipicu Aktivitas Sistem Sesar Besar
Menurut Dr. Daryono, gempa dipicu aktivitas Sistem Sesar Boconó–Morón–El Pilar, yaitu zona sesar geser mendatar kompleks yang menjadi batas pergerakan antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan.
Pergerakan kedua lempeng tersebut menyimpan akumulasi energi yang besar sehingga ketika dilepaskan menghasilkan guncangan sangat kuat.
Mengapa Kerusakannya Sangat Parah?
Selain magnitudonya yang besar, tingkat kerusakan diperparah oleh beberapa faktor.
Gempa memiliki hiposenter yang sangat dangkal sehingga energi guncangan sampai ke permukaan dengan intensitas tinggi. Kondisi geologi berupa tanah lunak di sejumlah kawasan turut memperkuat getaran (site amplification).
Tidak hanya itu, banyak bangunan tua maupun konstruksi yang tidak dirancang tahan gempa mengalami kerusakan berat.
“Bahaya utama gempa doublet adalah akumulasi kerusakan. Bangunan yang tampak masih berdiri setelah gempa pertama sebenarnya telah mengalami pelemahan struktur. Ketika gempa kedua datang beberapa puluh detik kemudian, bangunan tersebut kehilangan kemampuan menahan beban sehingga roboh,” jelasnya.
Guncangan diperkirakan mencapai intensitas IX MMI atau kategori guncangan ekstrem.
Ribuan bangunan permukiman dan gedung bertingkat di Caracas, termasuk kawasan Los Palos Grandes dan Altamira, mengalami kerusakan berat hingga runtuh.
Bandar Udara Internasional Simón Bolívar juga dilaporkan mengalami kerusakan serius sehingga operasional penerbangan dihentikan sementara.
Pemerintah Venezuela turut menghentikan sementara pasokan gas dan sejumlah layanan publik guna mengantisipasi ledakan maupun kebakaran susulan.
Laporan awal menyebutkan bencana ini menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan ribuan lainnya mengalami luka-luka.
Puluhan ribu warga masih dilaporkan hilang, sementara tim penyelamat terus melakukan pencarian korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan.
Pemerintah Venezuela telah menetapkan status darurat bencana untuk mempercepat penanganan kemanusiaan.
Dampak gempa tidak hanya dirasakan di Venezuela. Getaran kuat dilaporkan terasa hingga wilayah utara Kolombia, Brasil bagian utara seperti Manaus dan Belém, serta sejumlah negara dan wilayah di kawasan Karibia, termasuk Aruba, Bonaire, Curaçao, hingga sebagian Republik Dominika.
Mengingatkan pada Tragedi 1812
Dr. Daryono menilai bencana ini mengingatkan pada gempa besar Venezuela pada 26 Maret 1812 yang menjadi salah satu tragedi paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.
Saat itu, gempa dahsyat menghancurkan Caracas dan La Guaira serta menewaskan sekitar 15.000 hingga 20.000 orang hanya dalam waktu singkat.
“Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kawasan Venezuela merupakan wilayah aktif secara tektonik sehingga mitigasi, penerapan bangunan tahan gempa, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci utama untuk mengurangi risiko korban pada masa mendatang,” pungkas Dr. Daryono.
Penulis : Ris









Komentar