Tragis! Puluhan Jenazah Masih Tergeletak di Jalur Pendakian Everest

Ragam56 Dilihat

JAKARTA, REPUBLIX.ID – Gunung Everest dikenal sebagai puncak tertinggi di dunia sekaligus impian banyak pendaki. Namun di balik pesonanya, gunung yang berada di perbatasan Nepal dan Tibet itu menyimpan kenyataan pahit yang jarang diketahui publik.

Di sepanjang jalur menuju puncak Everest, sejumlah jenazah pendaki yang meninggal dunia masih berada di lokasi tempat mereka mengembuskan napas terakhir. Sebagian bahkan telah bertahun-tahun menjadi penanda rute bagi para pendaki yang melintas.

Fenomena tersebut bukan terjadi tanpa alasan. Salah satu penyebab utama adalah tingginya biaya evakuasi jenazah dari kawasan yang dikenal sebagai “zona kematian” atau death zone, wilayah dengan kadar oksigen yang sangat rendah dan berisiko tinggi bagi keselamatan manusia.

Biaya pemulangan jenazah dari Everest dapat mencapai sekitar US$70 ribu atau setara lebih dari Rp1 miliar. Angka tersebut bahkan mendekati atau melebihi biaya yang harus dikeluarkan seseorang untuk mengikuti ekspedisi pendakian ke Everest.

Selain mahal, proses evakuasi juga sangat berbahaya. Tim penyelamat harus menghadapi cuaca ekstrem, suhu di bawah titik beku, medan curam, serta ancaman longsoran es yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Risiko tersebut bukan sekadar teori. Pada 1984, dua pendaki asal Nepal dilaporkan meninggal dunia saat berupaya mengevakuasi jasad seorang pendaki perempuan asal Jerman dari lereng Everest.

Karena alasan keselamatan dan biaya yang sangat besar, banyak keluarga akhirnya memilih membiarkan jenazah tetap berada di gunung. Bahkan sebelum pendakian dimulai, para peserta biasanya diminta mengisi dokumen yang memuat pilihan terkait penanganan jenazah apabila mereka meninggal selama ekspedisi.

Kondisi ini membuat pemandangan jenazah di Everest bukan hal yang asing bagi para pendaki. Pendaki senior sekaligus pemegang rekor perempuan dengan jumlah pendakian Everest terbanyak, Lhakpa Sherpa, pernah mengaku melihat beberapa jenazah saat menuju puncak pada 2018.

Meski teknologi pendakian terus berkembang, evakuasi jenazah dari Everest hingga kini tetap menjadi operasi yang sangat rumit, mahal, dan berisiko tinggi. Karena itulah, sejumlah pendaki yang kehilangan nyawa di atap dunia tersebut masih akan tetap berada di sana untuk waktu yang sangat lama.

Penulis : Ris

Komentar