Taptu dan Parade Obor Kolaka Utara: Menelusuri Jejak Sejarah dan Api Perjuangan

Ragam511 Dilihat

KOLAKA UTARA, REPUBLIX.ID – Puluhan hingga ratusan cahaya obor bergerak menyusuri jalan utama Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Minggu malam, 16 Agustus 2026. Dalam suasana menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, tradisi Taptu dan Parade Obor kembali digelar sebagai bagian dari rangkaian penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan.

Prosesi dimulai dari Rumah Jabatan Bupati Kolaka Utara dan berakhir di Bundaran Suawindu. Bupati Kolaka Utara Drs. H. Nur Rahman Umar, M.H., bertindak sebagai inspektur upacara sebelum peserta bergerak dalam barisan membawa obor.

Wakil Bupati Kolaka Utara H. Jumarding, S.E., bersama anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara Hj. Hatija, Wakil Ketua DPRD Muhammad Syair, S.Sos Kepala Kejaksaan Negeri Kolaka Utara Muchammad Arifin, S.H., M.H., Dandim 1412 Kolaka Letkol Inf. Choky Gunawan, S.Sos., M.Han., serta unsur Forkopimda turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Barisan TNI, Brimob, Polri, Satpol PP, Damkar, Dishub, Pramuka, PMI, Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara (UMKOTA) dan berbagai unsur masyarakat kemudian berjalan menyusuri ruas utama Lasusua. Cahaya obor yang bergerak dalam satu barisan menciptakan suasana khidmat sekaligus simbolis di malam menjelang 17 Agustus.

Dikutip dari berbagai sumber, Taptu dikenal sebagai tradisi yang lazim digelar pada malam menjelang peringatan hari kemerdekaan. Istilah Taptu secara umum dipahami sebagai akronim dari Tabur Petang/Tutup Petang dalam tradisi keprajuritan yang berkembang di lingkungan militer dan kemudian menjadi bagian dari kegiatan seremonial peringatan hari-hari besar nasional.

Dalam perkembangannya, Taptu tidak semata-mata menjadi kegiatan baris-berbaris. Ia berkembang sebagai ritual penghormatan yang membawa peserta untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan generasi terdahulu.

Karena itu, pelaksanaan Taptu biasanya ditempatkan pada malam sebelum hari peringatan kemerdekaan. Malam dipilih bukan tanpa alasan. Dalam konteks simbolik, suasana malam menghadirkan ruang kontemplasi sebuah jeda sebelum masyarakat memasuki momentum perayaan kemerdekaan.

Dari sinilah parade obor menjadi bagian penting. Cahaya yang dibawa peserta secara kolektif menghadirkan gambaran tentang perjuangan manusia keluar dari situasi gelap menuju kehidupan yang lebih terang.

Obor memiliki posisi penting dalam tradisi tersebut. Api tidak sekadar berfungsi sebagai penerang jalan, tetapi mengandung makna filosofis.

Api dapat dimaknai sebagai simbol semangat perjuangan. Ia menggambarkan keberanian, daya hidup, dan tekad untuk mempertahankan sesuatu yang dianggap bernilai. Dalam konteks kemerdekaan Indonesia, nilai tersebut adalah persatuan, kedaulatan dan cita-cita kebangsaan.

Api yang berasal dari satu sumber kemudian dibawa oleh banyak orang juga menyiratkan gagasan tentang estafet perjuangan. Semangat yang diwariskan para pendahulu tidak berhenti pada satu generasi. Ia berpindah kepada generasi berikutnya untuk dijaga dan diterjemahkan dalam konteks zaman yang berbeda.

Jika dahulu perjuangan mempertahankan kemerdekaan dilakukan dengan mengangkat senjata, generasi sekarang menghadapi bentuk perjuangan yang berbeda meningkatkan pendidikan, membangun ekonomi, menjaga persatuan, melawan kemiskinan, memperkuat pelayanan publik dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Parade obor juga memiliki simbolisme pada cara peserta berjalan. Obor dibawa secara bersama-sama dalam satu barisan. Secara filosofis, hal tersebut merepresentasikan persatuan dalam keberagaman.

Tidak ada satu orang yang menjadi satu-satunya sumber cahaya. Setiap peserta membawa cahayanya masing-masing, tetapi ketika berjalan bersama, cahaya tersebut membentuk satu panorama yang lebih besar.

Pesan tersebut relevan dengan karakter Indonesia sebagai negara yang dibangun dari keberagaman suku, budaya, bahasa dan latar belakang masyarakat.

Dengan kata lain, parade obor bukan hanya tentang siapa yang berada di depan atau siapa yang membawa cahaya paling terang. Nilai utamanya justru terletak pada kemampuan berjalan dalam arah yang sama.

Di Kolaka Utara, tradisi Taptu dan Parade Obor kembali ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia.

Kegiatan tersebut menjadi pengantar menuju momentum 17 Agustus sekaligus ruang refleksi bahwa kemerdekaan tidak lahir secara instan. Di balik bendera yang dikibarkan setiap tahun terdapat sejarah panjang, pengorbanan dan kehilangan yang dialami generasi terdahulu.

Karena itu, kemerdekaan tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Nilainya perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Obor yang malam itu menyala di sepanjang jalan Lasusua pada akhirnya membawa pesan sederhana api perjuangan boleh berpindah tangan, tetapi semangat yang dikandungnya tidak boleh padam.

Dari generasi pejuang kepada generasi penerus, dari sejarah menuju masa depan, cahaya itu terus dijaga agar kemerdekaan tidak hanya dikenang, tetapi juga diisi dengan pengabdian dan karya.

Penulis : Ris