Dorong Kemandirian Energi, Kementan Percepat Hilirisasi Pertanian Lewat Biofuel dan Bioetanol

Nasional43 Dilihat

Setelah sektor pangan dinilai relatif stabil, pemerintah kini mulai menggeser fokus pada kemandirian energi. Salah satu langkah konkret adalah menghentikan impor solar secara bertahap dan menggantinya dengan biofuel berbasis sawit”

JAKARTA, REPUBLIX.ID – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat hilirisasi sektor pertanian dengan fokus pada pengembangan biofuel dan bioetanol. Langkah ini menjadi strategi utama dalam mendorong kemandirian energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan akselerasi hilirisasi merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ketahanan energi berbasis sumber daya dalam negeri.

“Presiden meminta kita melakukan percepatan hilirisasi, terutama di sektor pertanian melalui biofuel. Di tengah kondisi geopolitik yang memanas, kita harus bergerak cepat,” ujar Amran usai rapat hilirisasi bersama BUMN pangan di Jakarta, Senin (30/3/2026).

Menurut Amran, setelah sektor pangan dinilai relatif stabil, pemerintah kini mulai menggeser fokus pada kemandirian energi. Salah satu langkah konkret adalah menghentikan impor solar secara bertahap dan menggantinya dengan biofuel berbasis sawit.

“Targetnya penggunaan biofuel sawit B50, dengan kebutuhan mencapai sekitar 5,3 juta ton. Ini bagian dari komitmen menuju energi mandiri,” jelasnya.

Selain biofuel, Kementan juga mendorong pengembangan bioetanol melalui program E20, yakni campuran etanol sebesar 20 persen dalam bahan bakar bensin. Bahan baku bioetanol tersebut berasal dari komoditas pertanian seperti jagung, ubi kayu, dan tebu.

“Semua bahan baku itu tersedia dan bisa tumbuh optimal di Indonesia. Bahkan, produk samping seperti molase atau tetes tebu yang selama ini diekspor hingga 1 juta ton, bisa kita olah menjadi etanol,” tambah Amran.

Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menambahkan, sektor pertanian kini memegang peran strategis dalam transisi menuju kemandirian energi nasional.

“Setelah swasembada pangan, kita bergerak ke tahap berikutnya, yaitu swasembada energi. Pertanian menjadi salah satu penyumbang utama melalui bioenergi,” ujarnya.

Untuk mempercepat implementasi program, Kementan juga memperkuat kolaborasi dengan BUMN pangan sebagai motor penggerak hilirisasi di lapangan. Dukungan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Badan Pengaturan BUMN, Tedi Bharata, yang menegaskan kesiapan BUMN dalam mengoptimalkan potensi yang ada.

“Kami akan mengoptimalkan berbagai potensi di BUMN agar Indonesia bisa lebih mandiri dan independen, khususnya di sektor energi berbasis pertanian,” ujarnya.

Melalui percepatan hilirisasi ini, pemerintah menargetkan tercapainya kemandirian energi sekaligus peningkatan nilai tambah komoditas pertanian dalam negeri. Program ini juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi tantangan global.

Penulis : AM

Komentar