30 Gempa Guncang Sulawesi Tenggara dalam Sepekan, Tsunami Flores Ikut Berdampak ke Baubau dan Kolaka

Peristiwa288 Dilihat

KENDARI, REPUBLIX.ID – Aktivitas kegempaan di Sulawesi Tenggara tercatat cukup dinamis sepanjang pekan ketiga Agustus 2026. Sebanyak 30 kejadian gempa bumi terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara dalam periode 14-20 Agustus 2026.

Data Stasiun Geofisika Kendari menunjukkan, puluhan gempa tersebut tersebar di 12 kabupaten. Konawe Selatan menjadi wilayah dengan catatan kejadian terbanyak, yakni enam gempa, disusul Konawe Utara dengan lima kejadian.

Sementara itu, masing-masing tiga kejadian tercatat di Muna, Muna Barat, Konawe Kepulauan, dan Buton Tengah. Kolaka Timur mencatat dua kejadian. Adapun Bombana, Kolaka, Konawe, Buton Utara, dan Buton Selatan masing-masing mengalami satu kejadian.

Meski jumlahnya mencapai puluhan, sebagian besar gempa tersebut tidak dirasakan masyarakat. Hanya empat kejadian yang dilaporkan terasa dalam sepekan tersebut.

Gempa yang dirasakan terjadi di Konawe pada 14 Agustus, Muna pada 15 Agustus, Muna Barat pada 18 Agustus, serta Buton Tengah pada 20 Agustus 2026 waktu UTC.

Intensitas maksimum yang dirasakan masyarakat mencapai III MMI. Pada skala ini, getaran gempa dapat dirasakan di dalam rumah dan sejumlah benda ringan dapat ikut bergetar.

Tidak ada laporan kerusakan akibat empat gempa yang dirasakan tersebut.

Di tengah aktivitas kegempaan lokal tersebut, Sulawesi Tenggara juga merasakan dampak dari gempa kuat yang terjadi di wilayah Laut Flores, Nusa Tenggara Timur.

Pada 14 Agustus 2026 UTC, gempa berkekuatan M 7,7 mengguncang kawasan tersebut dan memicu tsunami yang kemudian terpantau di sejumlah wilayah pesisir Sulawesi Tenggara.

Stasiun pengamatan mencatat tsunami setinggi 0,30 meter di Baubau dan 0,23 meter di Kolaka.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak gempa tidak selalu berhenti di sekitar episentrum. Gempa kuat di laut dapat memicu gangguan muka air laut yang menjalar hingga wilayah pesisir yang cukup jauh dari sumber gempa.

Meski demikian, tidak terdapat laporan kerusakan akibat gempa-gempa yang dirasakan masyarakat di Sulawesi Tenggara selama periode tersebut.

Stasiun Geofisika Kendari mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi aktivitas kegempaan, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Informasi resmi dari lembaga terkait perlu menjadi rujukan utama, terutama ketika terjadi gempa kuat yang berpotensi menimbulkan tsunami.

Catatan 30 kejadian gempa dalam sepekan menjadi pengingat bahwa Sulawesi Tenggara merupakan salah satu wilayah yang memiliki aktivitas tektonik. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi penting, bukan karena setiap gempa akan berujung bencana, melainkan karena gempa kuat dapat datang tanpa banyak tanda.

Informasi tersebut disampaikan Stasiun Geofisika Kendari sebagai bagian dari upaya memberikan informasi kegempaan yang cepat dan akurat kepada masyarakat.

Penulis: Ris