SIGI, REPUBLIX.ID – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo (M) 4,6 kembali mengguncang Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Sabtu (20/6/2026) pagi. Gempa tersebut merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan pascagempa kuat M6,7 yang terjadi pada 16 Juni 2026.
Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 05.33.17 WIB. Episenter gempa berada di koordinat 1,15 LS dan 120,02 BT atau sekitar 31 kilometer timur laut Sigi dengan kedalaman 5 kilometer.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang dipicu aktivitas sesar aktif di wilayah Sulawesi Tengah.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Palolo,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
BMKG menyebutkan, berdasarkan estimasi peta guncangan (Shakemap) dan laporan masyarakat, getaran gempa dirasakan di Kabupaten Sigi, Kota Palu, hingga Kabupaten Parigi Moutong.
“Gempa bumi ini menimbulkan guncangan di Sigi, Palu dan Parigi Moutong dengan skala intensitas II-III MMI,” jelas Djati.
Pada skala tersebut, getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang, serta getaran terasa nyata di dalam rumah seperti ada kendaraan berat yang melintas.
Meski sempat membuat warga waspada, hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun korban akibat gempa tersebut.
“Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut,” katanya.
BMKG juga memastikan bahwa gempa M4,6 yang terjadi pada Sabtu pagi merupakan bagian dari rangkaian aktivitas susulan setelah gempa utama berkekuatan M6,7 yang mengguncang Sigi pada 16 Juni 2026.
Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, aktivitas seismik di wilayah tersebut masih cukup tinggi.
“Hingga tanggal 20 Juni 2026 pukul 06.45 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) sebanyak 1.046 kali dengan kekuatan terbesar M5,7,” ungkap Djati.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi BMKG, baik media sosial, situs web, maupun aplikasi resmi yang tersedia.
“Pastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG yang disebarkan melalui kanal komunikasi resmi yang telah terverifikasi,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, kondisi di wilayah terdampak dilaporkan masih aman dan aktivitas masyarakat berjalan normal.
Penulis : Ris









Komentar